Assalamu'alaikum Wr.Wb.. Selamat Datang di Website Kantor Urusan Agama Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen Melayani Dengan Hati - Bersih Dari Pungli - Setiap Pembayaran Kami Beri Kwitansi Welcome to The Office of Religious Affairs of Tanon District, Sragen Regency, Indonesia Serving Heartily - Free from Illegal Fees - A Receipt for Each Payment

Minggu, 22 Desember 2013

MENJAMAK SHALAT JUM’AT DENGAN SHALAT ASHAR

Oleh: Muhammad Nursalim


Menjamak shalat itu sudah sering kita dengar bahkan mungkin sudah terbiasa menjalankan. Yaitu menggabungkan dua shalat ke dalam satu waktu antara shalat dhuhur dengan ashar atau shalat maghrib dengan isya’. Tetapi bagaimana dengan menjamak antara shalat jum’at dengan dengan shalat ashar ? makalah ini akan menguraikan tentang masalah ini.

Perihal menjamak shalat ini Anas bin Malik bercerita sebagai berikut:


عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ – رضى الله عنه – قَالَ كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّهْرَ إِلَى وَقْتِ الْعَصْرِ ، ثُمَّ يَجْمَعُ بَيْنَهُمَا ، وَإِذَا زَاغَتْ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ





Artinya: Dari Anas bin Malik ra. berkata:” Nabi saw apabila berangkat bepergian sebelum matahari condong ke barat beliau mengakhirkan shalat dhuhur di waktu ashar lalu menjamak kedua shalat tersebut. Dan apabila berangkat setelah matahari condong ke Barat beliau shalat dhuhur terlebih dahulu. (HR.Bukhari)

Kapan seorang musafir boleh menjamak shalat ? terkait dengan ini para ulama menyamakan syarat shalat jamak dengan shalat qasar (meringkas shalat). Perintah shalat qasar ada pada surat an Nisa: 101
وَإِذَا ضَرَبْتُمْ فِي الْأَرْضِ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلَاةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنَّ الْكَافِرِينَ كَانُوا لَكُمْ عَدُوًّا مُبِينًا [النساء/101]

Artinya: Jika kamu bepergian maka tidak mengapa mengqasar shalat jika kamu takut diperangi orang-orang kafir. Sesungguhnya mereka itu musuhmu yang nyata.

Ayat ini berbentuk kalimat bersyarat yaitu boleh mengqasar shalat jika takut diserang orang kafir. Bagaimana dengan zaman sekarang yang kemungkinan serangan orang kafir itu sangat kecil ? untukmenjawab masalah iniImam At Tabari menafsirkan sebagai berikut:
عَنْ يَعْلَى بْنِ أُمَيَّةَ قَالَ قُلْتُ لِعُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ( لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَقْصُرُوا مِنَ الصَّلاَةِ إِنْ خِفْتُمْ أَنْ يَفْتِنَكُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا) فَقَدْ أَمِنَ النَّاسُ فَقَالَ عَجِبْتُ مِمَّا عَجِبْتَ مِنْهُ فَسَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ ذَلِكَ. فَقَالَ « صَدَقَةٌ تَصَدَّقَ اللَّهُ بِهَا عَلَيْكُمْ فَاقْبَلُوا صَدَقَتَهُ

Artinya: Dari Ya’la bin Umayah. Aku bertanya kepada Umar bin Khatab tentang ayat “tidakmengapakamu menjamak shalat jika kamu takut dengan serangan orang kafir”. Umar berkata : “ aku juga heran sebagaimana kamu karena itu aku bertanya kepada nabi saw tentang ini. Beliau menjawab “Itu adalah sedekah Allah kepadamumaka terimalah sedekahnya”. (HR.Muslim)

Hadis yang menerangkan masalah keringan dari Allah ini cukup banyak misalnya:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُؤْتَى رُخَصُهُ ، كَمَا يَكْرَهُ أَنْ تُؤْتَى مَعْصِيَتُهُ.

Artinya: Dari Ibnu Umar berkata Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah suka orang yang menjalankan rukhsah-rukhsahnya sebagaimana ia benci kepada orang yang menjalankan maksiat (HR. Ahmad)

Tentang bepergian yang boleh menqasar shalat yang terdapat pada ayat 101 surat Annisa perlu diperjelas. Sebab pergi ke pasar ke sekolah ke sawah dan arisan RT pun disebut pergi. Berikut ini adalah salah satu penjelasannya:
عَنْ يَحْيَى بْنِ يَزِيدَ الْهُنَائِىِّ قَالَ سَأَلْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ عَنْ قَصْرِ الصَّلاَةِ فَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا خَرَجَ مَسِيرَةَ ثَلاَثَةِ أَمْيَالٍ أَوْ ثَلاَثَةِ فَرَاسِخَ – شُعْبَةُ الشَّاكُّ – صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

Artinya: dari Yahya bin Yazid Al Hunani berkata aku bertanya kepada Anas bin Malik tentang mengqasar salat. Lalu ia menjelaskan : “Rasulullah saw apabila bepergian sejauh tigal mil atau tiga farsakh beliau shalat dua rakaat (menqasar). HR.Muslim

Hadis ini masih menyisakan pertanyaan. Satu farsah itu berapa kilo. Satuan jarak tempo dulu ini belum dapat kita operasikan. Nashiruddin Al Bani menjelaskan sebagai berikut:
الفرسخ : ثلاثة أميال والميل من الأرض منتهى مد البصر وقيل حده أن ينظر إلى الشخص في أرض مسطحة فلا يدري أهو رجل أو امرأة وهو ذاهب أو آت

Artinya: Satu farsakh itu tiga mil dan satu mil itu adalah sejauh mata memandang di dataran yang rata dan saat itu jika ada seorang yang berjalan kita tidak dapat memedakan apakah ia laki-laki atau perempuan ia berjalan menuju arah kita atau menjauhi. (Silsilah Sahihah)
Penjelasan Al Bani tersebut juga belum memuaskan. Para ulama akhirnya juga berbeda pendapat berapa jarak seseorang boleh mengqasar shalat. Ada yang menyebutkan 80.640 KM. ada juga yg mengatakan 25.92 KM. Jarak ini sering disebut sebagai masafatul qasr (jarak yang boleh seseorang menqasar shalat). Dan jarak itu pula seseorang boleh menjamak shalat.

Sebelum mengulas tentang menjamak shalat jum’at dengan shalat asar. Perlu kita ketahui tentang orang yang tidak wajib shalat jum’at. Mereka adalah terdapat pada hadis berikut:
سنن البيهقى – (ج 2 / ص 463)
عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ : لاَ جُمُعَةُ عَلَى مُسَافِرٍ. هَذَا هُوَ الصَّحِيحُ مَوْقُوفٌ. {ت} وَرَوَاهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ فَرَفَعَهُ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-.

Dari Nafi’ dari Ibnu Umar berkata : “tidak ada jum’ah bagimusafir”. Hadis ini sahih tetapi mauquf (hadis yang hanya sampai kepada sahabat). Tetapi hadis yang melalui isnad bapaknya nafi’ hadis tersebut sampai kepada Nabi saw.
سنن أبى داود – (ج 3 / ص 432)
عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الْجُمُعَةُ حَقٌّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِى جَمَاعَةٍ إِلاَّ أَرْبَعَةً عَبْدٌ مَمْلُوكٌ أَوِ امْرَأَةٌ أَوْ صَبِىٌّ أَوْ مَرِيضٌ

Dari Tariq bin Syihab dari Nabi saw. Beliau bersabda: “Shalat jum’at itu wajib kepada setiap muslim kecuali empat golongan; yaitu budak wanita anak kecil dan orang sakit (HR.Abu Dawud)



Perihal menjamak shalat jum’at dengan shalat ashar ada dua pendapat: Pertama membolehkan. Pendapat ini adalah yang dianut ulama Syafi’iyah. Beberapa perkataan para ulama syafi’iyah adalah sebagai berikut:
فتاوى الشبكة الإسلامية – (ج 159 / ص 455)
أما الإمام الشافعي فإن الجمع بين الظهر والعصر عنده جائز في المطر. ومن أجل ذلك فقد نص الفقهاء من الشافعية على جواز الجمع بين صلاة الجمعة وصلاة العصر

Artinya: Adapun Imam Syafii mengatakan bahwa menjamak antara shalat dhuhur dengan ashar ketika hujan itu boleh. Untuk membuktikan itu para fuqaha syafi’iyah juga telah menetapkan tentang bolehnya menjamak shalat jum’ah dengan shalat ashar.
روضة الطالبين وعمدة المفتين – (ج 1 / ص 146)
يجوز الجمع بين صلاة الجمعة والعصر

Artinya:Boleh menjamak antara shalat jum’at dengan shalat ashar
شرح الوجيز – (ج 4 / ص 481)
قال ابن كج يجوز الجمع بين صلاة الجمعة والعصر

Artinya: Berkata Ibnu Kaji Boleh menjamak antara jum’at dengan shalat ashar

Alasan pembolehan ini adalah sebagai berikut:
Musafir itu tidak wajib shalat jum’at sebagai rukhsah baginya. Tetapi ia boleh menjalankan shalat jum’at. Krn itu tidak mungkin Allah memperberatnya dg melarang menjamak shalat jum’at dg shalat asar.
Tidak ada dalil yg melarang menjamak shalat jum’at dengan shalat ashar
Jika illat (alasan) menjamak adalah masyaqqah (kesulitan). Tidak ada bedanya antara musafir yg sholat dhuhur dengan shalat jum’at bahkan mereka yg sholat jum’at akan lebih berat.

Pendapat kedua adalah yang tidak membolehkan.

Mereka adalah ulama Hanabilah. Untuk ulama Modern seperti disampikan Syeikh Ustaimin dan Syeikh bin Baz. Alasannya adalah:
Tidak ada dalil yang meriwayatkan Nabi pernah menjamak shalat jum’at dengan shalat ashar
Shalat jum’at tidak dapat diqiyaskan dengan shalat dhuhur sebab pada ibadah jum’at terdapat ketentuan khusus yg berbeda dg shalat dhuhur.

Akhirnya sebagai bentuk ikhtiyat (hati-hati) menurut penulis adalah sebagai berikut:
Bila sedang safar di hari jum’at yang memenuhi ketentuan bolehnya menjamak shalat. Lalu ikut shalat jum’at bersama muqimin sebaiknya tidak menjamak dengan ashar.
Bila menghendaki tetap menjamak taqdim shalat ashar sebaiknya tidak ikut shalat jum’at tetapi cukup shalat dhuhur. Sehingga dapat menjamak dengan ashar.