Assalamu'alaikum Wr.Wb.. Selamat Datang di Website Kantor Urusan Agama Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen Melayani Dengan Hati - Bersih Dari Pungli - Setiap Pembayaran Kami Beri Kwitansi Welcome to The Office of Religious Affairs of Tanon District, Sragen Regency, Indonesia Serving Heartily - Free from Illegal Fees - A Receipt for Each Payment

Kamis, 21 November 2013

MELAWAN KAPITALISME GLOBAL DENGAN “ISLAMIC SAMINISM”


MELAWAN KAPITALISME GLOBAL DENGAN “ISLAMIC SAMINISM”

            Seorang remaja putri  15 an  tahun pergi ke toko kelontong di pojok jalan  Dusun Canden, Kalurahan Ketro, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen. Matanya menelisik  ke estalase toko, mencari-cari barang yang  akan dibelinya. Pemilik membiarkannya tanpa menyapa. sepatah katapun.
“Bu sabun  ini bu”, sambil menelunjukkan jari menunjukkan barang yang ia cari.
“Yang mana ?”, tanya  penjaga toko.
“ Itu lho bu, yang bungkusnya putih bentuknya kotak”.
“ Ooo... Dove  to, ya sebentar”. Pemilik toko menuju estalase sabun dan mengambilkan barang yang diinginkan pembeli.
“Harganya berapa bu ?, tanya remaja itu sambil menghitung-hitung uangnya yang  dikahawatirkan tidak cukup.
“tujuh ribu lima ratus”.
      Dan transaksi jual beli itupun selesai setalah saling menerima uang dan barang di depan estalase toko kampung itu.
            Dove....Adalah sebuah  sabun mandi produk German. Di  telivisi bintang iklannya menceritakan bahwa berkat memakai sabun tersebut kulit tubuh dan pipinya menjadi seperti kulit pantat bayi yang halus dan montok sehingga mengundang setiap orang untuk mencubit. Di tingkat pengecer sabun buatan luat negeri itu  berharga Rp. 7.500. Bandingkan dengan  harga sabun mandi lokal, misalnya GIV Rp. 800, Nuvo Rp. 800,  Lifebuoy Rp. 1250 dan Lux  Rp. 1500. Lalu bandingkan pula dengan upah buruh tani di desa tersebut, laki-laki Rp. 15.000 perhari  sedangkan perempuan hanya Rp. 10.000.
            Sepotong kisah di atas menggambarkan betapa derap globalisasi sudah merambah sampai kampung  terpencil yang jauh dari ibukota. Senjata yang paling ampuh untuk hal itu adalah media terutama telivisi dan pemain utama dari fenomena ini adalah para pemilik modal. Siapa yang diuntungkan dari globalisasi dan siapa pula yang dirugikan sudah amat jelas. Tanpa harus mengadakan penelitianpun akan mudah terjawab, bahwa masyarakat miskin di negara-negara dunia ketigalah korban utamanya sedangkan para pemilik modal akan semakin besar dalam mengeruk kekayaan dunia ke kantongnya.            Bagaimana tidak sengsara orang-orang desa itu, kalau hanya ingin membelikan sepotong sabun anaknya saja harus bekerja di bawah  terik matahari dari jam 6 pagi sampai jam 4 sore,  sementara para kapitalis dunia dapat mengumpulkan jutaan dollar dalam hitungan menit.
            Ini adalah ketidakadilan karena itu harus dilawan. Tulisan berikut akan mengulas bagaimana melawan kapitalisme global tersebut. Mungkin tidak ilmiah dan kurang strategis tetapi sebagai sebuah ide barangkali bisa dipertimbangkan.

 Antara kebutuhan dan keinginan
            Buku-buku ekonomi secara standar menyebutkan bahwa   manusia melakukan kegiatan ekonomi itu untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan  mencerminkan adanya perasaan  kekurangan dalam diri manusia yang ingin dipuaskan. Jenis kebutuhan manusia bermacam-macam mulai dari makanan, minuman, alas tidur,  komputer, telpon  dan lain-lain. Semua kebutuhan tersebut  dari segi intensitasnya dapat dibedakan menjadi tiga yaitu primer, sekunder  dan tertier.
            Kebutuhan primer merupakan kebutuhan utama yang harus dipenuhi. Termasuk dalam hal ini adalah makanan, minuman dan tempat tinggal. Term primer berasal dari kata primus yang artinya pertama karena itu agar manusia tetap hidup maka jenis kebutuhan ini harus diutamakan. Sedangkan kebutuhan sekunder berarti kebutuhan untuk memperoleh kenyamanan hidup setelah yang primer terpenuhi. Sekunder sendiri berasal dari kata secundus yang artinya kedua, karena itu urutannya barada setelah yang pertama. Berikutnya adalah kebutuhan tertier. Kebutuhan ini tujuannya untuk meningkatkan prestise seseorang di masyarakat. Sifat kebutuhan jenis ini tergolong mewah karena itu biasanya harganya mahal.
            Teori tentang kebutuhan  di atas mengacaukan antara  kebutuhan dan keinginan, padahal pada persoalan inilah kekacauan dunia berawal. Ketika kegiatan ekonomi manusia ditujukan untuk memenuhi kebutuhan maka kebutuhan manusia itu ada batasnya sebaliknya bila kegiatan manusia itu bertujuan untuk memuaskan keinginannya maka perlu diketahui bahwa keinginan manusia itu tidak terbatas.
            Sebagai  contoh untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan adalah sebagai berikut :        Kebutuhan gizi anak usia 4 - 6 tahun itu adalah ; Kalsium 500 miligram, Zat besi 9 miligram, Zat seng 10 miligram, Vitamin A 460  mikrogram, Vitamin C 45 miligram dan Vitamin D 10  miligram atau jumlah itu sama dengan 1500 kalori. Kebutuhan  tersebut dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi nasi  sebanyak 300 gr., sayuran 100 gr., tempe satu potong, buah 200 gr. dan segelas susu. Tetapi kalau seorang ibu ingin memuaskan keinginan anak maka ia dapat menambah   dengan memberikan corned, jelly,  es cream walls bahkan memperkenalkannya pizza dan hamburger.
            Contoh lain adalah kebutuhan akan pakaian. Ini adalah jenis kebutuhan primer, artinya setiap manusia harus memilikinya. Dalam perspektif  Islam pakaian dibutuhkan  untuk menutup aurat. Dari perspektif ini maka  sebenarnya kebutuhan primer seorang muslim adalah menutup auratnya. Kebutuhan ini bisa dipenuhi dengan  membeli baju dan celana seharga Rp. 50.000. Tetapi  lagi-lagi manusia  bisa saja  menuruti keinginannya dengan membeli pakaian penutup aurat yang mengikuti mode terakhir  seharga  5 juta perpotong.
                        Suatu kebutuhan muncul pada diri manusia berasal dari manusia yang bersangkutan sedangkan keinginan biasanyan  muncul setelah ada  pengaruh dari luar. Misalnya seorang ibu rumah tangga memperoleh gaji  dari suaminya  Rp. 500. 000      perbulan.  Uang sebanyak itu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang hidup di desa dan terdiri dari 2 orang anak usia 1  dan 3 tahun serta suaminya. Ketika ibu tersebut mengikuti arisan di RT ia memperoleh informasi tetangganya bahwa toko X memberi peluang kepada  masyarakat untuk membeli lemari es dengan cara kredit. Bila dibanding dengan toko lain harganya jauh lebih ringan. Karena memperoleh informasi tersebut muncullah keinginan pada ibu  itu untuk  memiliki  perlengkapan rumah tangga tersebut. Ibu itu selanjutnya  memutar otak bagaimana cara  meyakinkan suami bahwa keinginannya itu merupakan kebutuhan. Mulailah proses rasionalisasi berlangsung. Beberapa alasan berhasil ia temukan di antaranya adalah, bahwa dengan memiliki lemari es sayuran dan buah-buahan menjadi segar, kebiasaan membeli es anaknya bisa dipenuhi di rumah, kalau ada sayur atau lauk yang sisa dapat diperpanjang daya tahannya dan frizernya dapat dipakai membuat es lilin dan dititipkan di warung tetangga.
            Apakah rasionalisasi dari keinginan menjadi kebutuhan tersebut logis ?. Seringkali yang terjadi hanyalah pembenaran belaka. Sebab  dengan  pendapatan yang sama  yang selama ini cukup kemudian harus ditambah untuk   memuaskan keinginan memiliki lemari es maka yang terjadi adalah defisit anggaran rumah tangga.
            Masyarakat modern saat ini  disibukkan untuk  memenuhi kebutuhannya  yang bermacam-macam tetapi kebanyakan  hanyalah pseudo needs ( kebutuhan seolah-olah). Landasan  dari ini semua adalah materialisme dan hedonisme padahal inilah idiologi kapitalisme global.

 Islamic Saminism
            Samin adalah nama suku yang ada di pinggiran hutan jati di daerah Blora Jawa Tengah. Suku tersebut menjadi terkenal karena gerakannya yang melawan kolonialisme Belanda tanpa menggunakan senjata tetapi dengan gerakan budaya. Mereka menolak segala  hal yang berbau  penjajah baik dari aspek pakaian, makanan, tingkah laku, bahasa, cara berfikir dan lain-lain. Karena itu pula masyarakat Samin sering dinilai primitif, sebab menghindari pengaruh budaya asing. Dalam beberapa hal gerakan suku Samin hampir sama  dengan yang dilakukan  Mahatma Gandi di India saat melawan   penjajah Inggris.
            Islamic Saminism penulis maknai sebagai sebuah gerakan melawan kepentingan kapitalisme global dengan cara mengendalikan diri yaitu menyeleksi secara ketat setiap   keinginan yang berproses seolah-olah  menjadi kebutuhan. Kebutuhan memang harus dipenuhi sesuai dengan kapabilatas seseorang tetapi pseudo needs harus dihindari untuk dipenuhi. Biarkan iklan membombardir kotak telivisi, menawarkan pseudo needs  sehingga banyak masyarakat terkecoh tetapi selama barang-barang tersebut bukan benar-benar kebutuhan maka  membelinya berarti suatu tindakan ceroboh.

                        Dalam terminologi sufi gerakan Islamic Saminism hampir identik dengan sikap qona’ah. Hanya saja bila qona’ah cenderung fatalis dalam hidup maka Islamic Saminism harus tetap kreatif, inovatif dan visioner.  Dengan cara demikian ada dua keuntungan yang dapat diraih ; Pertama secara mikro gerakan ini akan mengatasi  kebiasaan defisit anggaran  baik lingkup individu maupun rumah tangga, sehingga tidak ada lagi istilah besar pasak daripada tiang atau gali lubang tutup lubang dan  keuntungan kedua secara makro negeri ini tidak menjadi bulan-bulanan kaum kapitalis internasional. Wallahu ‘alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar