MELAWAN KAPITALISME GLOBAL DENGAN “ISLAMIC SAMINISM”
Seorang remaja putri 15 an tahun pergi ke toko kelontong di pojok jalan Dusun Canden, Kalurahan Ketro, Kecamatan Tanon, Kabupaten Sragen. Matanya menelisik ke estalase toko, mencari-cari barang yang akan dibelinya. Pemilik membiarkannya tanpa menyapa. sepatah katapun.
“Bu sabun ini bu”, sambil menelunjukkan jari menunjukkan barang yang ia cari.
“Yang mana ?”, tanya penjaga toko.
“ Itu lho bu, yang bungkusnya putih bentuknya kotak”.
“ Ooo... Dove to, ya sebentar”. Pemilik toko menuju estalase sabun dan mengambilkan barang yang diinginkan pembeli.
“Harganya berapa bu ?, tanya remaja itu sambil menghitung-hitung uangnya yang dikahawatirkan tidak cukup.
“tujuh ribu lima ratus”.
Dan transaksi jual beli itupun selesai setalah saling menerima uang dan barang di depan estalase toko kampung itu.
Dove....Adalah sebuah sabun mandi produk German. Di telivisi bintang iklannya menceritakan bahwa berkat memakai sabun tersebut kulit tubuh dan pipinya menjadi seperti kulit pantat bayi yang halus dan montok sehingga mengundang setiap orang untuk mencubit. Di tingkat pengecer sabun buatan luat negeri itu berharga Rp. 7.500. Bandingkan dengan harga sabun mandi lokal, misalnya GIV Rp. 800, Nuvo Rp. 800, Lifebuoy Rp. 1250 dan Lux Rp. 1500. Lalu bandingkan pula dengan upah buruh tani di desa tersebut, laki-laki Rp. 15.000 perhari sedangkan perempuan hanya Rp. 10.000.
Sepotong kisah di atas menggambarkan betapa derap globalisasi sudah merambah sampai kampung terpencil yang jauh dari ibukota. Senjata yang paling ampuh untuk hal itu adalah media terutama telivisi dan pemain utama dari fenomena ini adalah para pemilik modal. Siapa yang diuntungkan dari globalisasi dan siapa pula yang dirugikan sudah amat jelas. Tanpa harus mengadakan penelitianpun akan mudah terjawab, bahwa masyarakat miskin di negara-negara dunia ketigalah korban utamanya sedangkan para pemilik modal akan semakin besar dalam mengeruk kekayaan dunia ke kantongnya. Bagaimana tidak sengsara orang-orang desa itu, kalau hanya ingin membelikan sepotong sabun anaknya saja harus bekerja di bawah terik matahari dari jam 6 pagi sampai jam 4 sore, sementara para kapitalis dunia dapat mengumpulkan jutaan dollar dalam hitungan menit.
Ini adalah ketidakadilan karena itu harus dilawan. Tulisan berikut akan mengulas bagaimana melawan kapitalisme global tersebut. Mungkin tidak ilmiah dan kurang strategis tetapi sebagai sebuah ide barangkali bisa dipertimbangkan.
Antara kebutuhan dan keinginan
Buku-buku ekonomi secara standar menyebutkan bahwa manusia melakukan kegiatan ekonomi itu untuk memenuhi kebutuhannya. Kebutuhan mencerminkan adanya perasaan kekurangan dalam diri manusia yang ingin dipuaskan. Jenis kebutuhan manusia bermacam-macam mulai dari makanan, minuman, alas tidur, komputer, telpon dan lain-lain. Semua kebutuhan tersebut dari segi intensitasnya dapat dibedakan menjadi tiga yaitu primer, sekunder dan tertier.
Kebutuhan primer merupakan kebutuhan utama yang harus dipenuhi. Termasuk dalam hal ini adalah makanan, minuman dan tempat tinggal. Term primer berasal dari kata primus yang artinya pertama karena itu agar manusia tetap hidup maka jenis kebutuhan ini harus diutamakan. Sedangkan kebutuhan sekunder berarti kebutuhan untuk memperoleh kenyamanan hidup setelah yang primer terpenuhi. Sekunder sendiri berasal dari kata secundus yang artinya kedua, karena itu urutannya barada setelah yang pertama. Berikutnya adalah kebutuhan tertier. Kebutuhan ini tujuannya untuk meningkatkan prestise seseorang di masyarakat. Sifat kebutuhan jenis ini tergolong mewah karena itu biasanya harganya mahal.
Teori tentang kebutuhan di atas mengacaukan antara kebutuhan dan keinginan, padahal pada persoalan inilah kekacauan dunia berawal. Ketika kegiatan ekonomi manusia ditujukan untuk memenuhi kebutuhan maka kebutuhan manusia itu ada batasnya sebaliknya bila kegiatan manusia itu bertujuan untuk memuaskan keinginannya maka perlu diketahui bahwa keinginan manusia itu tidak terbatas.
Sebagai contoh untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan adalah sebagai berikut : Kebutuhan gizi anak usia 4 - 6 tahun itu adalah ; Kalsium 500 miligram, Zat besi 9 miligram, Zat seng 10 miligram, Vitamin A 460 mikrogram, Vitamin C 45 miligram dan Vitamin D 10 miligram atau jumlah itu sama dengan 1500 kalori. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dengan mengkonsumsi nasi sebanyak 300 gr., sayuran 100 gr., tempe satu potong, buah 200 gr. dan segelas susu. Tetapi kalau seorang ibu ingin memuaskan keinginan anak maka ia dapat menambah dengan memberikan corned, jelly, es cream walls bahkan memperkenalkannya pizza dan hamburger.
Contoh lain adalah kebutuhan akan pakaian. Ini adalah jenis kebutuhan primer, artinya setiap manusia harus memilikinya. Dalam perspektif Islam pakaian dibutuhkan untuk menutup aurat. Dari perspektif ini maka sebenarnya kebutuhan primer seorang muslim adalah menutup auratnya. Kebutuhan ini bisa dipenuhi dengan membeli baju dan celana seharga Rp. 50.000. Tetapi lagi-lagi manusia bisa saja menuruti keinginannya dengan membeli pakaian penutup aurat yang mengikuti mode terakhir seharga 5 juta perpotong.
Suatu kebutuhan muncul pada diri manusia berasal dari manusia yang bersangkutan sedangkan keinginan biasanyan muncul setelah ada pengaruh dari luar. Misalnya seorang ibu rumah tangga memperoleh gaji dari suaminya Rp. 500. 000 perbulan. Uang sebanyak itu cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya yang hidup di desa dan terdiri dari 2 orang anak usia 1 dan 3 tahun serta suaminya. Ketika ibu tersebut mengikuti arisan di RT ia memperoleh informasi tetangganya bahwa toko X memberi peluang kepada masyarakat untuk membeli lemari es dengan cara kredit. Bila dibanding dengan toko lain harganya jauh lebih ringan. Karena memperoleh informasi tersebut muncullah keinginan pada ibu itu untuk memiliki perlengkapan rumah tangga tersebut. Ibu itu selanjutnya memutar otak bagaimana cara meyakinkan suami bahwa keinginannya itu merupakan kebutuhan. Mulailah proses rasionalisasi berlangsung. Beberapa alasan berhasil ia temukan di antaranya adalah, bahwa dengan memiliki lemari es sayuran dan buah-buahan menjadi segar, kebiasaan membeli es anaknya bisa dipenuhi di rumah, kalau ada sayur atau lauk yang sisa dapat diperpanjang daya tahannya dan frizernya dapat dipakai membuat es lilin dan dititipkan di warung tetangga.
Apakah rasionalisasi dari keinginan menjadi kebutuhan tersebut logis ?. Seringkali yang terjadi hanyalah pembenaran belaka. Sebab dengan pendapatan yang sama yang selama ini cukup kemudian harus ditambah untuk memuaskan keinginan memiliki lemari es maka yang terjadi adalah defisit anggaran rumah tangga.
Masyarakat modern saat ini disibukkan untuk memenuhi kebutuhannya yang bermacam-macam tetapi kebanyakan hanyalah pseudo needs ( kebutuhan seolah-olah). Landasan dari ini semua adalah materialisme dan hedonisme padahal inilah idiologi kapitalisme global.
Islamic Saminism
Samin adalah nama suku yang ada di pinggiran hutan jati di daerah Blora Jawa Tengah. Suku tersebut menjadi terkenal karena gerakannya yang melawan kolonialisme Belanda tanpa menggunakan senjata tetapi dengan gerakan budaya. Mereka menolak segala hal yang berbau penjajah baik dari aspek pakaian, makanan, tingkah laku, bahasa, cara berfikir dan lain-lain. Karena itu pula masyarakat Samin sering dinilai primitif, sebab menghindari pengaruh budaya asing. Dalam beberapa hal gerakan suku Samin hampir sama dengan yang dilakukan Mahatma Gandi di India saat melawan penjajah Inggris.
Islamic Saminism penulis maknai sebagai sebuah gerakan melawan kepentingan kapitalisme global dengan cara mengendalikan diri yaitu menyeleksi secara ketat setiap keinginan yang berproses seolah-olah menjadi kebutuhan. Kebutuhan memang harus dipenuhi sesuai dengan kapabilatas seseorang tetapi pseudo needs harus dihindari untuk dipenuhi. Biarkan iklan membombardir kotak telivisi, menawarkan pseudo needs sehingga banyak masyarakat terkecoh tetapi selama barang-barang tersebut bukan benar-benar kebutuhan maka membelinya berarti suatu tindakan ceroboh.
Dalam terminologi sufi gerakan Islamic Saminism hampir identik dengan sikap qona’ah. Hanya saja bila qona’ah cenderung fatalis dalam hidup maka Islamic Saminism harus tetap kreatif, inovatif dan visioner. Dengan cara demikian ada dua keuntungan yang dapat diraih ; Pertama secara mikro gerakan ini akan mengatasi kebiasaan defisit anggaran baik lingkup individu maupun rumah tangga, sehingga tidak ada lagi istilah besar pasak daripada tiang atau gali lubang tutup lubang dan keuntungan kedua secara makro negeri ini tidak menjadi bulan-bulanan kaum kapitalis internasional. Wallahu ‘alam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar