Assalamu'alaikum Wr.Wb.. Selamat Datang di Website Kantor Urusan Agama Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen Melayani Dengan Hati - Bersih Dari Pungli - Setiap Pembayaran Kami Beri Kwitansi Welcome to The Office of Religious Affairs of Tanon District, Sragen Regency, Indonesia Serving Heartily - Free from Illegal Fees - A Receipt for Each Payment

Kamis, 21 November 2013

PELAJARAN DARI KUA KEDIRI



PELAJARAN DARI KUA KEDIRI
Oleh: Muhammad Nursalim
(Kepala KUA Tanon-Sragen)

            “ Pak Romli sudah menjadi martir untuk pelajaran kawan-kawan kepala KUA tetapi kata Allah memang kebanyakan manusia itu tidak mampu mengambil pelajaran dari peristiwa yang terjadi”. Begitu status seseorang dalam Facebook yang tergabung dalam Forum Komunikasi Operator Simkah Se Indonesia (FK-OSI). Romli adalah kepala KUA Kediri yang menjadi tersangka mark up biaya nikah. Biaya yang mestinya 30 ribu ia pungut ke masyarakat 200 ribu. Saat ini ia meringkuk di Lembaga Pemasyarakatan kelas II Kediri sebagai tahanan kejaksaan.
            Sejak penghapusan biaya bedolan tahun 2007. Masalah biaya nikah selalu menarik diperbincangkan. Saat itu kepala Kanwil Kemenag Jateng Masyhudi mengeluarkan surat edaran nomor Kw.11.2/1/PW.00/8369/2007  tentang Biaya Pencatatan Nikah. Isi suratnya sangat tegas yaitu “Terhitung sejak bulan Oktober 2007 menghentikan pungutan beaya Nikah dan Rujuk yang tidak sesuai dengan PP No. 51 Tahun 2000 jo. PP No. 47 Tahun 2004”. Surat sejenis juga dikeluarkan oleh kepala Kemenag kabupaten/kota dan Inspektorat Jenderal Kemenag RI dan terakhir dikeluarkan oleh Kakanwil Kemenag Jateng Khaeruddin nomor Kw.11.6/1/PW.01/6394/2013 tanggal 29 April 2013. Dengan demikian secara normative tidak ada alasan kepala KUA tidak mengerti tentang aturan biaya nikah. Tetapi fakta di lapangan mayoritas kepala KUA tidak menghiraukan instruksi atasannya. Tetap melakukan mark up biaya nikah dengan berbagai macam alasan.
            Dengan meledaknya kasus KUA Kediri mestinya para kepala KUA segera berbenah menyesuaikan dengan aturan yang telah digariskan. Berikut ini adalah  langkah menuju ke jalan yang lurus tersebut.
1.      Menjelaskan logika pelayanan public
Salah satu alasan yang selalu dipakai KUA untuk memungut (pungli) atau menerima (gratifikasi) biaya nikah diluar ketentuan adalah karena kebanyakan akad nikah  dilakukan di luar kantor dan di luar jam kerja. Bahkan banyak yang berlindung bahwa tradisi masyarakat tersebut tidak mungkin diubah sebab mereka menentukan hari akad nikah itu bukan hanya perhitungan mencari waktu luang tetapi lebih banyak karena pertimbangan klenik atas saran dukun.
Alasan seperti itu dapat dibongkar dengan menjelaskan logika pelayanan public kepada masyarakat. Sebagaimana lazimnya kantor pemerintah yang memberi pelayanan public. Masyarakat salama ini dengan suka rela menuju ke kantor yang meraka butuhkan. Misalnya mencari SIM harus ke Polres. Mencari KTP wajib datang sendiri ke kantor Kecamatan. Mencari Akta Kelahiran mesti ke Kantor Catatan Sipil. Mencari sertifikat tanah harus ke Badan Pertanahan Nasional. Mencari paspor wajib datang sendiri ke Kantor Imigrasi. Mencari Akta Cerai harus sidang di Pengadilan bahkan membayar pajak kendaraan juga harus ke samsat. Karena itu rasanya bukan sesuatu yang ganjil atau mengada-ada bila KUA juga mengharuskan masyarakat datang ke KUA untuk mendapatkan Akta Nikah. Mereka akad nikah terlebih dahulu di KUA baru kemudian surat yang dimaksud mereka dapatkan. Satu sisi kita dapat melayani masyarakat dengan baik dan pada saat yang sama KUA dapat meminimilisir peran dukun dalam kehidupan masyarakat. Ini adalah dakwah sangat strategis dan praktis.
Menurut pakar sosiologi hukum Zimring dan Hawkins ternyata selain ekonomi hukum atau peraturan memiliki pengaruh yang cukup kuat dalam merubah budaya masyarakat. Teori ini bila diterapkan dalam pelayanan nikah maka akan terjadi revolusi budaya  pernikahan di masyarakat. Bahkan para dukunpun akan dipaksa mengikuti aturan main KUA. Dahulu ketika talak dan cerai cukup dicatat di KUA  banyak masyarakat yang bedol kepala KUA untuk mencatat perceraiannya. Ketika lahir peraturan baru yaitu keharusan talak dan cerai harus melalui sidang di Pengadilan Agama maka masyakartpun berbondong-bondong ke Pengadilan Agama tanpa ada gejolak apapun. Dengan teori dan fakta tersebut maka mestinya kepala KUA tidak perlu khawatir menekan masyarakat agar melakukan akad nikah di KUA.
2.      Kontrol dari atasan
Peraturan sudah diterbitkan begitupun berbagai surat edaran dan surat dinas telah dikeluarkan oleh atasan KUA baik kakankemenag kakanwil maupun inspektorat Jenderal. Intinya sama bahwa kepala KUA agar mentaati aturan tentang biaya nikah. Selama ini yang sangat lemah adalah kontrol dan evaluasi terhadap implementasi aturan tersebut.
Menurut pakar managemen GR Terry kontrol dan evaluasi merupakan aspek yang tidak boleh ditinggalkan  agar organisasi berjalan dengan baik.  Yang nampak  selama ini adalah pembiaran pejabat KUA berjamaah melanggar peraturan dengan berbagai dalih. Masing-masing menafsiri Peraturan Pemerintah (PP) Peraturan Menteri Agama (PMA) dan Surat Edaran (SE) sesuai dengan kepentingannya sendiri-sendiri. Untuk itu dengan adanya kasus KUA Kediri yang disidang di Pengadilan Tipikor mestinya tidak ada lagi bermacam-macam tafsir. Sebagaimana kaidah fikih; Hukmul hakim yarfa’ul khilaf (putusan hakim menghilangkan perbedaan tafsir). Tafsir tunggal tersebut adalah bahwa menarik biaya nikah di luar 30 ribu merupakan perbuatan korupsi. Konsekuensi lebih lanjut maka pejabat yang membiarkan pegawai KUA  memperkaya diri dan pihak-pihak yang turut menikmati dapat dijerat dengan undang-undang korupsi.
3.      Menjaga marwah institusi dan pribadi
Kementerian Agama merupakan lembaga yang mulia. Pegawainyapun  tokoh-tokoh agama yang sangat dihormati tak terkecuali Kepala KUA. Maka menjadi keniscayaan setiap pegawai Kemenag menjaga marwah institusi ini dengan cara setiap pribadi menghindari perbuatan tercela. Dahulu kepala KUA dan penghulu dapat menqiyaskan uang yang diberikan masyarakat setelah akad nikah dengan bisyarah yang diterima para kyai. Saat ini tidak dapat seperti itu. Uang tersebut adalah jenis gratifikasi yang termasuk kategori korupsi maka harus dihindari.

Kita berharap dengan adanya kasus KUA Kediri ini pejabat Kementerian Agama dapat segera berbenah. Bukan hanya mencari legalitas untuk dapat meraih uang bedolan dan sejenisnya akan tetapi kemba like khittah yaitu Ikhlas Beramal. Itulah jalan lurus yang menyelamatkan. Wallahu’alam

LEBIH CEPAT LEBIH BAIK



LEBIH CEPAT LEBIH BAIK

            Judul tulisan ini mengingatkan pada sebuah ungkapan penting dalam kehidupan modern orang barat saat ini yang serba maju dan cepat, yaitu “The sooner the better” (Lebih cepat lebih baik). Ajaran Islam ternyata juga memiliki beberapa tuntunan bila dilakukan segera akan lebih baik di mata Allah dan manusia.

  1. Segera melaksanakan sholat
Sukses hidup itu tergantung pada ketepatan dalam  menentukan prioritas  pilihan. Pagi-pagi pilih membersihkan rumah atau olahraga, sarapan pecel atau soto kwali, beli sepatu produk China atau Cibaduyut, lulus kuliah nikah dulu atau kerja, jam 20  membaca buku atau nonton tv, jam 12 sholat  atau  menjemput anak, jam 3 pagi pilih terus tidur atau sholat malam dan lain-lain Tidak ada orang  sukses karena kebetulan, pasti ia jauh hari telah pandai menentukan prioritas hidup. Dalam  kaitan ini ternyata mendahulukan mengerjakan sholat daripada aktifitas yang lain merupakan prioritas paling baik. Sebagaimana sabda nabi dari Ibnu Mas’ud berikut:
Aku  bertanya kepada nabi saw. Amal apa yang paling dicintai Allah, jawab nabi, “sholat di awal waktu”, lalu apa ?, “berbakti kepada kedua orang tua”, kemudian apa ?, “berjuang di jalan Allah”. (Sahih Bukhari juz 2 hlm. 405).
      Awal waktu sholat ditandai dengan berkumandangnya suara azan. Untuk itu bila mendengar azan segeralah mengambil air wudhu dan sholat, ini lebih baik dan mulia. Ketentuan ini untuk kondisi normal dan biasa, dalam keadaan khusus misalnya seorang dokter bedah sedang mengoperasi pasien, bencana yang datang tiba-tiba atau  menunggu  kereta yang jadwal keberangkatannya sama dengan awal waktu sholat tentu ada kaidah tersendiri.
      Membiasaan mendahulukan sholat daripada yang lain akan membentuk budaya seseorang, bila hal ini dilakukan semua anggota keluarga maka akan menjadi budaya keluarga, dan bila dilakukan sebagian besar warga RT maka akan menjadi budaya RT, dan seterusnya. Efeknya akan sangat dahsyat. Acara-acara yang melibatkan orang banyak akan berakhir ketika azan berkumandang, pesta pernikahan selesai saat waktu sholat masuk, rapat ditutup ketika azan tiba dan   schedule hidup ukurannya adalah waktu sholat. Dan yang lebih penting adalah munculnya sikap disiplin pada diri kita. Sungguh indah bila ajaran nabi ini  kita ikuti.

  1. Menyegerakan  mengurus jenazah
Imam Bukhori meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw bersabda: “percepatlah kalian saat mengantarkan jenazah ke makam, sebab bila jenazah tersebut orang yang soleh berarti kalian telah menyegerakana kebaikan untuknya; dan jika bukan orang baik-baik kalian segera  terbebas dari menanggungnya” hadis ini tercantum pada kitab Sahih Bukrahi juz 1 halaman 442.
      Mengurus jenazah merupakan kewajiban kifayah. Bila sudah ada sekelompok orang yang mengurusnya maka yang lain terbebas dari dosa. Ada empat kewajiban dalam kaitan ini. Memandikan, mengkafani, mensholati dan mengubur.  Islam sangat menganjurkan agar kita segera menyelesaikan empat perkara tersebut.
      Di daerah tertentu ada kebiasaan baik. Bila ada orang wafat maka walaupun jam 11 malam masyarakat segera mengurusnya. Yang biasa menggali kubur segera pergi ke makam, begitupun yang memandikan, mengkafani dan mensholati segera mengerjakan tugasnya. Tidak perlu menunggu anggota keluarga yang jauh di luar daerah. Di pagi hari masyarakat segera dapat beraktifitas seperti biasa karena kewajiban kifayahnya sudah ditunaikan. Inilah budaya  yang bersendikan syari’ah.

  1. Segera membayar utang
Syari’ah Islam sangat perhatian pada muamalah, terutama dalam hal utang piutang. Bahkan ayat terpanjang di dalam al Qur’an yaitu surat al baqarah:182 membicarakan tentang utang.
Dalam hal ini rasulullah bersabda, “Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang paling baik dalam pembayaran utangnya.(HR. Bukhari)”. Baik dalam membayar utang berarti segera membayar sesuai dengan perjanjian. Kebiasaan buruk yang sering kita lakukan adalah suka berhutang tetapi malas mengembalikan. Padahal nabi mengancam mempermalukan  orang yang mampu membayar utang tetapi menunda-nundanya.  “Menunda-nunda pembayaran yang dilakukan orang yang mampu menghalalkan harga diri dan pemberian sangsi kepadanya. (HR. Bukhari)
Utang adalah relasi sosial dengan manusia. Nabipun enggan mensholati jenazah orang yang punya utang. Diceritakan oleh Qotadah, bahwa ada tiga jenazah yang dimintakan kepada rasulullah agar beliau mensholatinya,  nabi bertanya, “apakah ia punya utang?” jawab qatadah, “iya”. Maka nabi memerintah  Qotadah agar mensholatinya dan nabi sendiri tidak bersedia. Ketika ada orang yang menjamin utang-tangnya maka beliau baru mau mensholati (Sahih Bukhari juz. 2 hlm, 299)

  1. Segera nikahkan anak gadismu
Abu Hatim al-Muzani berkata: Rosululloh saw. bersabda: Jika datang kepadamu seorang  yang kamu senangi agama dan akhlaknya maka nikahkanlah (putrimu) dengannya. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di permukaan bumi ini. (HR Tirmidzi: 1005, dan dihasankan oleh al-Albani dalam Mukhtashor Irwaul Gholil 1/370)
Syaikh Ibnu Utsaimin tatkala ditanya : “bagaimana hukum orang tua yang menghalangi putrinya yang sudah kuat (keinginannya) untuk menikah tetapi mereka masih menyuruh putrinya melanjutkan kuliah?”

Maka beliau menjawab:” tidak diragukan lagi bahwa orang tuamu yang melarangmu (menikah padahal kamu) sudah siap menikah hukumnya adalah haram. Sebab, menikah itu lebih utama dari pada menuntut ilmu, dan juga karena menikah itu tidak menghalangi untuk menuntut ilmu, bahkan bisa ditempuh keduanya. Jika kondisimu demikian wahai Ukhti! Engkau bisa mengadu ke pengadilan agama dan menyampaikan perkara tersebut, lalu tunggulah keputusannya.” (Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin 2/754)

MEMPERBAHARUI IMAN


MEMPERBAHARUI IMAN

            Kesibukan sehari-hari sering melenakan hati kita dari radar Allah. Akibatnya semangat beribadah berkurang dan dengan Allahpun semakin jauh. Bila itu dibiarkan maka tanpa kita sadari perjalanan hidup kita akan semakin keluar dari tuntunan Allah. Ibarat pengembara, kita tidak terbimbing dengan peta Allah sehingga tersesat. Orang seperti ini meninggalkan kewajiban agama menjadi ringan dan berbuat maksiatpun tanpa beban. Ketika iman ada di dada kehilangan sholat jamaah satu kali saja sangat menyesal tetapi  di saat hati jauh dari Allah sholat menjadi malas, sedekah enggan dan maksiat menjadi kebiasaan. Untuk itu rasulullah mengajarkan kepada umatnya agar selalu memperbaharui iman dari waktu ke waktu. 
مسند أحمد - (ج 18 / ص 475)
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « جَدِّدُوا إِيْمَانَكُمْ
Artinya: Rasulullah bersabda, “Perbaharuillah imanmu” (Musnad Ahmad juz 18 hlm. 475)
            Allah swt. Berfirman dalam surat an Nisa:136

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya
.
            Ayat tersebut menyuruh orang beriman supaya beriman. Najih Ibrahim memaknai kalimat ini dengan menyebut bahwa iman itu bisa tambah dan kurang bahkan lenyap dari orang yang beriman, agar tetap terpelihara maka diperlukan pembaharuan iman.

            Ada beberapa cara agar iman kita selalu terbaharui.
  1. Membaca siroh orang-orang salafusoleh
Membaca ulang sejarah hidup perjalanan orang-orang soleh akan dapat mengembalikan hati kita kepada iman. Apapun profesi dan kedudukan kita telah ada suri tauladan orang-orang terdahulu yang sukses dalam iman sesuai dengan status sosial mereka. Bila anda seorang pejabat bacalah kisah Umar bin Khatab dan Umar bin Abdul Azis. Bila anda orang kaya bacalah kisah  Ustman bin Afwan dan Abdurahman bin Auf. Bila anda seorang tentara atau polisi bacalah perjalanan perjuangan Khalid bin Walid, Mus’ab bin Umair atau Tariq bin Ziad. Bila anda orang fakir becalah kisah keteguhan  Bilal,   Salman al Farisi atau kebodohan Sa’labah, bila anda orang berilmu bacalah riwayat hidup Imam Bukhari, imam Syafii dan para ulama lain. Dan bila anda seorang wanita bacalah kehebatan Ummu Sulaim, putri-putri nabi dan ummul Mukminin (istri-istri nabi). Sungguh membaca kisah ahli ibadah akan memantik kembali semangat kita dalam menjalankan sholat, puasa, menuntut ilmu dan zikir.

2. Kholwat
      Berkholwat adalah menyendiri untuk muhasabah. Dengan menyendiri memutus hubungan sementara dengan manusia akan dapat mengoreksi perjalanan hidup kita. Pada bulan ramadan ini media berkholwat yang paling baik adalah i’tikaf di sepuluh hari terakhir. Syekh  Sholih Ustaimin mendefinisikan i’tikaf adalah memutus hubungan dengan manusia  lain untuk memfokuskan diri sepenuhnya untuk melakukan ibadah di dalam  masjid demi mencari keutamaan dan pahalanya  dan demi mendapatlan lailatul qodar. Sebuah hadis nabi tentang hal ini adalah:
كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Artinya: rasulullah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan ramadhan sampai wafat. Sesudah itu beri’tikaf pula istri-istri beliau sepeninggal beliau.
            Ketika berkholwat inilah seseorang bisa mengucurkan air mata penyesalan dan tobat, menangis karena takut, malu, cinta dan khusuk kepada Alah yang Mahasuci. Saking pentingnya i’tikaf bagi seorang mukmin  imam Abu Hanifah membolehkan wanita untuk ber’itikaf di dalam kamar dalam rumahnya yang dikhususkan untuk sholat. Tentang keistimewaan  berkholwat ini rasulullah menyebutkan bahwa salah satu dari tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan Allah di hari kiamat adalah laki-laki yang mengingat Allah dalam kesendirian dan menangis.

رجل ذكر الله خاليا ففاضت عيناه


3. Melakukan aktifitas pembangkit tawadhu
            Tawadhu adalah rendah hati kebalikannya adalah ujub (berbangga diri).  Karena keberhasilan yang kita raih sering memunculkan rasa ujub di hati. Ini adalah penyakit yang berhaya sebab akan menghilangkan keikhlasan. Untuk itu suatu saat kita perlu melakukan aktifitas yang dapat menghilangkan ujub dan membangkitkan tawadhu. Misalnya membersihkan MCK masjid dan sekolah, menyapu jalan atau membantu menyeberangkan jalan orang buta. Umar bin khatab pernah memanggul air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, ketika ditanya ia menjawab “ aku tengah diliputi sikap ujub dan karennaya aku ingin  mendidik diriku”.

4. Ziarah kubur
            Ziarah kubur akan mengingatkan kita akan kematian, cara ini sangat efektif untuk melecut sesorang agar rajin beribadah. Sabda nabi:

زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الآخِرَةَ
Artinya: berziarah kuburlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur itu akan mengingatkan kalian akan akherat.
            Berdialog imajiner dengan penghuni kubur akan menghantarkan kita kepada perenungan yang bermakna. Yang ada di depan kita saat itu ternyata ada manusia-manusia kuat berkuasa, zalim, lemah, miskin, tua,  muda, soleh dan durjana. Mereka semua mengingatkan jiwa kita bahwa seperti mereka pula masa depan kehidupan ini.

5. Mengunjungi orang-orang sholeh
            Kita dapat mendengar nasehat mereka, cerita tentang perjuangannya dan kawan-kawannya. Kita juga dapat meniru bagaimana kezuhudan mereka, kecintaan mereka kepada akherat, pengorbanannya untuk Islam dan jihadnya di jalan Allah.
            Mengunjungi orang sholeh ini pernah dilakukan nabi Musa, bahkan ia mencarinya berhari-hari sampai akhirnya bertemu dengan  Khizir. Di saat itulah nabi musa mengerti bahwa  ada hamba Allah yang lebih hebat dari dirinya.

6. Mengingat ayyamullah (hari-hari Allah)
            Tentang hal ini Allah berfirman:

             
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah “sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi Setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.
            Yang dimaksud dengan hari-hari Allah ialah peristiwa yang telah terjadi pada kaum-kaum dahulu maupun sekarang yang dapat dipakai pelajaran. Misalnya hari tatkala Fir’aun ditenggelamkan, hari ketika Allah memenangkan tentara Islam di Badr, hari ketika Fathul Makah, hari ketika kaum Yahudi diusir dari Madinah atau bahkan hari ketika proklamasi kemerdekaan RI dikumandangkan.
            Dengan melakukan enam cara tersebut semoga iman kita selalu terpelihara sehingga kehidupan kita akan semakin baik.  Wallahu’ alam

SODAQOH SEBAGAI TOLAK BALAK

SODAQOH SEBAGAI TOLAK  BALAK

            Ada seorang kawan yang punya pola pikir dan perilaku aneh. Keanehannya itu sering benar walaupun tidak logis. Misalnya suatu saat, ketika ia mendapati anaknya sakit kawan itu tidak segera membawanya ke dokter tetapi ia malah sibuk mencari orang-orang miskin  lalu diberinya  mereka sejumlah uang. Perilakunya itu tidak jarang menyebabkan ia harus bersitegang dengan istrinya. Menurut sang istri anak yang sedang  sakit itu tentu akan memerlukan banyak uang untuk berobat, karena itu tindakan membagi-bagikan uang kepada orang lain merupakan perbuatan konyol. Tetapi setelah berlangsung berkali-kali ketegangan itupun tidak lagi terjadi sebab biasanya selang bebarapa saat si anak segera  sembuh  walaupun tanpa  dibawa ke dokter.
            Kali lain, ketika ia selesai mengerjakan  sebuah proyek bendungan tiba-tiba mendung bergelantung  di mana-mana. Menurut perhitungannya bila turun hujan lebat maka bendungan yang baru selesai dikerjakan  itu akan jebol dan ini berarti sebuah malapetaka baginya. Dalam kondisi tegang tersebut kawan tadi segera mencari anak-anak miskin kemudian ia bagikan kepada mereka uang duapuluh ribuan, sambil  komat-kamit memanjatkan do’a ia menunggu apa yang akan terjadi. Dan ternyata Allah mengabulkan permohonannya. Hujan tak jadi turun dan bandungan yang  baru dibangun itupun selamat.
            Ketika ditanya tentang perilaku anehnya  itu, kawan tadi menjawab, “ Aku  telah berjual beli dengan Allah, aku beli apa yang dimiliki Allah dan Ia memberikan barangnya keapadaku. Allah yang memiliki kesehatan tapi pada saat yang sama ia perintahkan hambanya untuk menyantuni orang-orang miskin, maka aku beli yang ia tawarkan itu dan ia memberi anakku kesehatan. Lalu Allahlah yang menurunkan hujan kapan dan dimanapun Ia mau, lalu aku beli kemauan Allah tersebut dengan cara aku membagikan sebagian uangku kepada anak-anak miskin  tersebut lalu Ia pun menahan hujan itu sehingga akupun tidak jadi bangkrut”.
            Kalau dipakai  hukum sebab akibat perilaku kawan tadi memang tidak rasional walapun ia setengah mati merasionalisasikan  perbuatannya. Tetapi hidup ini memang ternyata tidak selamanya mesti rasional. Ada saat dimana keyakinan itu akan mengalahkan rasionalitas. Kawan tadi memiliki keyakinan yang kelewat kuat akan keterlibatan Allah dalam proses hidupnya. Yang ia tahu perilaku dermawan itu akan mendatangkan rahmat dari Allah maka ia lakukan sifat tersebut.
            Banyak orang menyangkal logika aneh itu tetapi ia telah  berkali-kali membuktikan dan ternyata benar. Ada landasan normatif yang ia pegangi yaitu sebuah hadist Nabi yang maknanya, “ Kasihilah apa saja yang ada di bumi maka kalian akan dikasihi zat yang ada di langit (Allah)”.  Dalam tradisi Jawa juga ada pepatah, “ Pagar mangkok lebih kuat daripada pagar tembok”. Bila anda  takut hartamu dijarah orang jangan hanya membangun pagar tembok yang berduri. Secara teknis memang pagar yang tinggi sulit ditembus pencuri tetapi akal pencuri seringkali lebih hebat dari pemilik rumah sehingga tetap saja pencurian tetap terjadi. Lain halnya bila  anda suka bersedekah maka bukan  hanya tetangga  yang akan turut menjaga rumah anda tetapi  Allah juga akan  turut menjaganya.
              Ada lagi cerita  dari Adi Warman Karim, seorang pakar ekonomi Islam di Jakarta. Ketika  bang Adi - begitu ia biasa disapa -  masih kuliah di Boston,  Amerika suatu saat uang sakunya tinggal beberapa dolar. Uang yang ada itu hanya cukup untuk bertahan hidup tidak lebih dari dua hari. Dalam keadaan kepepet seperti itu, ia mengambil  langkah yang benar-benar gila, yaitu ia kirimkan uang tersebut ke Jakarta untuk disedekahkan kepada ibunya. Ia  yakin Allah akan memberinya ganti karena ia telah berbuat baik kepada sang ibu. Dan ternyata benar, tak lama kemudian beasiswa yang selama ini ia tunggu-tunggu turun dan dapat dicairkan. Bang Adi selamat dari  kesengsaran di negeri orang  karena telah bersedekah kepada orang  yang dikasihinya.

           Pada situasi di mana kebanyakan orang hanya mengandalkan keunggulan rasionalitas saat ini, nampaknya terobosan untuk menghadirkan sesuatu yang “aneh” perlu diujicobakan. Misalnya beberapa waktu lalu kita ditakutkan oleh wabah SARS yang mematikan, kita beli masker dan segala perlengkapan untuk menghindari penyakit itu. Tetapi adakah di antara kita yang mencoba berfikir “aneh” untuk selamat dari malapetaka  SARS selain yang logis-logis tersebut ?,  yaitu  mencegahnya dengan memperbanyak bersedekah ?.Anda mungkin tidak percaya dengan langkah ini, tetapi percaya atau  tidak anda boleh mencobanya. Wallahu ‘alam

MEMANGNYA ADA REMAJA NAKAL ?

MEMANGNYA ADA REMAJA NAKAL  ?

            Adalah Mike, seorang pelajar SMU di Amerika Serikat. Ia dikenal teman-temannya sebagai remaja berandalan. Suka mbolos, biang kisruh di sekolah,  nilai raportnya tidak ketulungan bahkan pengguna narkotika. Kata beberapa kawannya Mike sudah jemu dengan kehidupan sehingga melakukan hal-hal di atas. Orang tuanyapun telah  menyerah  mengurusi anak itu begitupun pihak sekolah kewalahan menanganinya.  Ketika  terjadi pergantian pimpinan sekolah, bapak kepala  sekolah yang baru memanggil anak tersebut agar menghadap. Ketika Mike datang ke ruangan kepala sekolah, sang guru hanya tersenyum sambil mempersilahkan  Mike duduk. Tanpa banyak bercakap, bapak guru minta  agar Mike menujulurkan tangan kepadanya.  Kepala sekolah memagang telapak tangan Mike sambil menyeledik  dengan seksama. Kata kepala sekolah, “ nak, garis tanganmu  menunjukkan kau punya  potensi istimewa untuk menjadi dokter bedah yang hebat, selamat berjuang”.
            Keluar ruangan, Mike  bingung sambil berkali-kali melihat telapak tangannya. Sementara di kepalanya terngian-ngiang ucapan bapak kepala sekolah bahwa dirinya  punya bakat menjadi dokter bedah yang hebat. Perlahan tapi pasti, pada diri Mike telah terjadi proses pengenalan jati diri. Pertarungan hebat terjadi pada jiwa Mike. Ia harus keluar dari label remaja brengsek dan  menjadi orang hebat seperti yang dikatakan bapak guru.  Revolusi diri telah terjadi pada diri Mike dan akhirnya ia memang berhasil meraih cita-cita sebagaimana yang pernah diucapkan bapak guru. Begitulah cerita seorang   ahli jiwa dr. Norman V. Peale dalam salah satu karyanya ; You can if You Think You can (katakan bisa pasti anda akan bisa). Muktiyono dalam Rindang,  Nopember 2002   
            Cerita di atas menunjukkan bahwa sebenarnya para remaja yang berbuat tidak seperti pakemnya masyarakat umum bukanlah  anak yang nakal tetapi  hanyalah se sosok manusia yang belum mengenal jati dirinya. Karena itu pula ia bukanlah anak nakal tetapi anak yang sedang punya masalah sehingga  pandangannya miopis (tidak mampu melihat masa depannya sendiri). Nah proyek pengenalan jati diri ini perlu dilakukan oleh si empunya masalah dan dibantu orang-orang yang punya pengetahuan tentang hal tersebut. Idealnya pihak ketiga itu adalah  orang tua dan sekolah, tetapi karena proses materialisasi yang  melanda  di segenap aspek kehidupan menyebabkan hanyalah bagaikan  pabrik yang menghasilkan sekrup-sekrup untuk kemudian dipasangkan pada tempat-tempat yang telah didisain oleh pemilik modal.
            Sekolah saat ini menempatkan anak didik  semacam benda mati, tak punya kehendak, tak punya keinginan, tak punya  kemauan dan tak mempunyai hati nurani. Istilah lain untuk hal ini adalah pendidikan gaya bank.   Ada sepuluh asumsi pendidikan model ini : 1), Guru mengajar, murid belajar 2). Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa 3). Guru berfikir, murid difikirkan 4). Guru bercerita, murid mendengarkan 5). Guru mengatur, murid diatur 6). Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menyetujui 7). Guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan guru 8). Guru memilih bahan dan isi pelajaran, murid menyesuaikan diri dengan pelajaran itu 9). Guru mencampur adukkan wewenang dan jabatannya  untuk menghalangi kebebasan murid 10).  Guru adalah subjek, murid adalah obyek dalam proses belajar. Inilah model pendidikan yang ditentang Paul Freira, katanya sekolah saat ini adalah  bentuk kapitalisme yang licik. Karena itu perlu terobosan untuk mengatasi  hal seperti ini. Khuriyah dalam Rindang, Nopember 2002

Problem solving Islami bagi remaja yang bermasalah
            Kata Nabi, “setiap anak itu lahir dalam keadaan fitrah, maka orang tuanya (lingkungan) yang akan membentuk dia  menjadi Nasrani, Yahudi atau Majusi”. Kesucian anak  ternodai oleh silang sengkarutnya lingkungan. Karena itu  bila ada remaja yang gagap terhadap lingkungan berikut adalah  terapi yang bisa dilakukan.

Pertama : Kenali dirimu
                        Kebanyakan kita  suka mengetahui rahasia orang, dengan rahasia itu bisa dipakai untuk ngerumpi, gosip bahkan memfitnah orang lain. Sebaliknya terlalu sedikit  di antara kita yang mengerti siapa diri kita sebenarnya. Mengerti  potensi dan kelemahan pribadi merupakan cara cerdas untuk mengambil langkah memasuki kehidupan yang sebenarnya.  Proses pengenalan diri ini seringkali perlu dibantu orang lain, karena itu pelatihan-pelatihan psikologi bisa dipakai untuk urusan ini. Di Amerika  banyak lembaga-lembaga konseling nirlaba yang membantu menyelesaikan anak-anak yang bermasalah seperti ini. Sedangkan di Indonesia biasanya dilakukan oleh universitas-universitas yang memiliki fakultas psikologi. Di Jogjakarta ada lembaga seperti ini yang bernama Rifka Annisa. Secara periodik  lembaga tersebut sering melakukan pelatihan-pelatihan psikologi bagi para remaja di samping menerima bimbingan konseling remaja yang bermasalah.
            Secara sederhana pengenalan diri sendiri dapat memakai analisa SWOT (strenght, Wedness, Oportunity, tread) ; yaitu analisis untuk mengetahui kekuatan pribadi, kelemahan, peluang atau kesempatan dan tantangan. Dengan memenej empat hal tersebut seseorang akan  dapat memaksimalkan diri dalam mengaktualisasikan dirinya. Kita harus yakin bahwa tidak ada manusia yang sempurna  tetapi kitapun mesti yakin bahwa setiap manusia pasti memiliki kelebihan. Kata pepatah arab, la tahtaqir man dunaka falikulli syaiin maziyyah (janganlah anda menyepelekan orang lain karena setiap orang memiliki kelebihan).

Kedua : Melakukan pekerjaan positif yang digemari
                        Setelah mengetahui potensi diri secara benar. Sudah tahu  who am I ?, siapa aku sebenarnya ?. Maka langkah berikutnya adalah mengisi  waktu untuk  beraktifitas sesuai dengan potensi  riil yang pada diri kita.
                        Era modern saat ini yang dibutuhkan adalah seorang ahli dalam bidang tertentu. Tipe manusia yang tahu segalanya tidak lagi dibutuhkan. dan ini berarti pengembangan pribadi  agar maksimal dalam bidang tertentu menjadi niscaya dilakukan. Sikap sungkan, gengsi, malu  dan semacamnya merupakan penyakit yang perlu dibuang jauh. Bila seseorang telah disibukkan dengan aktifitas yang digemari dan postif tentu dengan sendirinya  akan terhindar dari  perbuatan yang sia-sia.
                        Kekosongan itu merusak, bengong tanpa kontrol merupakan ketololan hidup yang perlu dihindari. Firman Allah, bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan tetapi syaratnya adalah, bila anda telah melakukan satu pekerjaan isilah kekosongan itu dengan pekerjaan lain. Kata Hasan Al Bana, “ wahai pemuda sesungguhnya kewajiban kalian lebih banyak daripada waktu yang anda miliki, karena itu jangan buang waktu anda sia-sia”.
                        Dalam teori ekonomi terdapat teori Time Value of Money (nilai waktu uang). Artinya uang itu akan  memiliki harga karena perubahan waktu dan nilai itulah dalam ekonomi konvensional  disebut bunga. Dalam konteks Islam hal tersebut dinamakan riba dan itu dilarang. Yang ada adalah Economic Value of Time (nilai ekonomis dari waktu). Artinya  waktu itu akan berharga tergantung orang yang menggunakannya. Bagi bapak ibu guru satu jam senilai Rp. 5000, bagi seorang mubaligh profesional seharga Rp. 250.000, bagi seorang konsultan pasar modal bisa sebesar Rp. 10 juta, sedangkan bagi pengangguran waktu tak bernilai apapun.

Ketiga : Hindari lingkungan yang tidak sehat
                        Al kisah, ada seorang  preman  yang sudah membunuh  99 orang. Tetapi tiba-tiba ia ingin taubat. Karena itu  jagoan tersebut mendatangi seorang  pendeta, katanya “ wahai bapak pendeta saya sudah membunuh 99 orang dan hari ini saya ingin taubat, apakah Tuhan masih menerima taubat saya ?”. “Aduh, sayang sekali anda sudah berbuat sejahat itu baru ingin  taubat. Enak bener, tentu saja Tuhan tidak akan  menerima taubatmu”. Jawab sang pendeta. Mendengar jawaban tersebut preman itu membunuh sang pendeta, maka lengkaplah 100 orang yang telah dibantainya tanpa dosa. Kemudian, premen itu  mendatangi seorang ulama katanya, “ bapak kyai, saya  sudah membunuh 100 orang bahkan yang terakhir seorang pendeta dan sekarang saya ingin taubat, apakah Tuhan menerima taubat saya ?. Dengan tersenyum sang ulama  menganggukkan kepala lalu dia berpesan, “ nak, Allah Maha pengampun. ia akan menerima setiap hambanya yang  telah tersesat dan ingin kembali kepadan Nya, termasuk anda. Nah karena itu bergembiralah anda telah sadar. Tetapi setalah ini tinggalkan kampung halamanmu sebab kampungmu itu kampung brengsek dan pergilah ke suatu tempat di mana anda akan bisa lebih baik”. Preman itupun meninggalkan rumah sang ulama dengan gembira, dan tatkala menuju kampung baru yang ditunjukkan pak Kyai ia meninggal di tengah perjalanan. Lalu dua malaikat berdebat tentang status  mantan preman tersebut. Kata malaikat  rahmat, “ Ini urusan saya, karena dia  orang baik. Memang benar ia telah membunuh 100 orang tetapi dia sudah taubat”.   “Tidak”, kata malaikat yang mengurusi orang-orang jahat, “memang benar ia telah bertaubat tetapi ia belum berbuat sesuatu kebaikan untuk taubatnya itu, karena itu dia adalah orang jahat”.    Mengetahui  perselisihan itu datanglah malaikat ketiga sebagai  penengah, “ baik, sekarang untuk mengetahui apakah dia orang baik atau orang jahat silahkan diukur, manakah yang lebih jauh jarak  yang telah ditempuh orang ini, antara tempat ini dengan kampung yang dituju dibanding kampung yang ditinggalkan”. Setelah diukur ternyata ia telah meninggalkan kampung halamannya separo lebih. Jadi ia orang baik.
                        Cerita di atas menunjukkan bahwa lingkungan  yang rusak  akan membuat seseorang baik menjadi rusak pula. Karena itu memilih kawan bergaul merupakan pekerjaan yang tidak gampang. Betapa banyak contoh remaja baik dapat menjadi tidak karuan gara-gara salah memilih teman.
                        Peer Group adalah term untuk menyebut kawan-kawan tempat kita secara intens bergaul. Biasanya remaja akan lebih terbuka kepada kelompoknya itu. Urusan pribadi secara terus terang diceritakan kepada kelompoknya  bukan kepada  orang tua apalagi guru BP. Karena itu  banyak orang tua yang salah duga. Dikiranya anakanya adalah penurut dan alim karena ketika di rumah memang nampak seperti itu, tetapi  tatkala  bersama peer groupnya ia baru menjadi dirinya sendiri   tanpa ditutupi.  Bergembiralah, bila anda mendapati peer group yang baik. memberi semangat belajar dan beribadah, dan hati-hati bila sebaliknya.

Reflkesi
            Ketika remaja masih seorang bayi dan anak kecil setiap orang berusaha berbicara dengan bahasa anak-anak. Menyapa dengan raut wajah lucu agar anak tersenyum atau berbuat sesuatu yang seakan-akan ia sendiri anak kecil. Perbuatan orang-orang dewasa tersebut dengan satu tujuan, anak bisa menerima pesan yang disampaikannya.
            Kemudian ketika sang anak telah menginjak remaja orang-orang dewasa itu  tidak mau lagi  berbicara dengn mereka dengan bahasa remaja. Mereka mengaggap remaja itu adalah  seperti dirinya yang telah dewasa, karena itu berbicara, menasehati, memarahi dan memerintah sebagaimana layaknya ia berkomunikasi dengan orang dawasa. Yang terjadi adalah  konsleting. Remaja merasa tertekan dengan nasehat-nasehat yang diberikan orang tua atau bapak ibu guru. Padahal remaja memiliki bahasa sendiri, cara sendiri, obsesi sendiri, kemauan sendiri dan cirikhas sendiri yang perlu dipahami oleh orang-orang dewasa. Jadi ada disparitas antara remaja dengan orang dewasa sehingga tatakala remaja punya banyak masalah pelariannya kepada  peer groupnya dan karena miopis mereka menjadi salah langkah dalam menyelesaikan masalah. Jadilah remaja itu bermasalah yang oleh orang-orang dawasa dikategorikan remaja nakal.