MEMANGNYA ADA REMAJA NAKAL ?
Adalah Mike, seorang pelajar SMU di Amerika Serikat. Ia dikenal teman-temannya sebagai remaja berandalan. Suka mbolos, biang kisruh di sekolah, nilai raportnya tidak ketulungan bahkan pengguna narkotika. Kata beberapa kawannya Mike sudah jemu dengan kehidupan sehingga melakukan hal-hal di atas. Orang tuanyapun telah menyerah mengurusi anak itu begitupun pihak sekolah kewalahan menanganinya. Ketika terjadi pergantian pimpinan sekolah, bapak kepala sekolah yang baru memanggil anak tersebut agar menghadap. Ketika Mike datang ke ruangan kepala sekolah, sang guru hanya tersenyum sambil mempersilahkan Mike duduk. Tanpa banyak bercakap, bapak guru minta agar Mike menujulurkan tangan kepadanya. Kepala sekolah memagang telapak tangan Mike sambil menyeledik dengan seksama. Kata kepala sekolah, “ nak, garis tanganmu menunjukkan kau punya potensi istimewa untuk menjadi dokter bedah yang hebat, selamat berjuang”.
Keluar ruangan, Mike bingung sambil berkali-kali melihat telapak tangannya. Sementara di kepalanya terngian-ngiang ucapan bapak kepala sekolah bahwa dirinya punya bakat menjadi dokter bedah yang hebat. Perlahan tapi pasti, pada diri Mike telah terjadi proses pengenalan jati diri. Pertarungan hebat terjadi pada jiwa Mike. Ia harus keluar dari label remaja brengsek dan menjadi orang hebat seperti yang dikatakan bapak guru. Revolusi diri telah terjadi pada diri Mike dan akhirnya ia memang berhasil meraih cita-cita sebagaimana yang pernah diucapkan bapak guru. Begitulah cerita seorang ahli jiwa dr. Norman V. Peale dalam salah satu karyanya ; You can if You Think You can (katakan bisa pasti anda akan bisa). Muktiyono dalam Rindang, Nopember 2002
Cerita di atas menunjukkan bahwa sebenarnya para remaja yang berbuat tidak seperti pakemnya masyarakat umum bukanlah anak yang nakal tetapi hanyalah se sosok manusia yang belum mengenal jati dirinya. Karena itu pula ia bukanlah anak nakal tetapi anak yang sedang punya masalah sehingga pandangannya miopis (tidak mampu melihat masa depannya sendiri). Nah proyek pengenalan jati diri ini perlu dilakukan oleh si empunya masalah dan dibantu orang-orang yang punya pengetahuan tentang hal tersebut. Idealnya pihak ketiga itu adalah orang tua dan sekolah, tetapi karena proses materialisasi yang melanda di segenap aspek kehidupan menyebabkan hanyalah bagaikan pabrik yang menghasilkan sekrup-sekrup untuk kemudian dipasangkan pada tempat-tempat yang telah didisain oleh pemilik modal.
Sekolah saat ini menempatkan anak didik semacam benda mati, tak punya kehendak, tak punya keinginan, tak punya kemauan dan tak mempunyai hati nurani. Istilah lain untuk hal ini adalah pendidikan gaya bank. Ada sepuluh asumsi pendidikan model ini : 1), Guru mengajar, murid belajar 2). Guru mengetahui segala sesuatu, murid tidak tahu apa-apa 3). Guru berfikir, murid difikirkan 4). Guru bercerita, murid mendengarkan 5). Guru mengatur, murid diatur 6). Guru memilih dan memaksakan pilihannya, murid menyetujui 7). Guru berbuat, murid membayangkan dirinya berbuat melalui perbuatan guru 8). Guru memilih bahan dan isi pelajaran, murid menyesuaikan diri dengan pelajaran itu 9). Guru mencampur adukkan wewenang dan jabatannya untuk menghalangi kebebasan murid 10). Guru adalah subjek, murid adalah obyek dalam proses belajar. Inilah model pendidikan yang ditentang Paul Freira, katanya sekolah saat ini adalah bentuk kapitalisme yang licik. Karena itu perlu terobosan untuk mengatasi hal seperti ini. Khuriyah dalam Rindang, Nopember 2002
Problem solving Islami bagi remaja yang bermasalah
Kata Nabi, “setiap anak itu lahir dalam keadaan fitrah, maka orang tuanya (lingkungan) yang akan membentuk dia menjadi Nasrani, Yahudi atau Majusi”. Kesucian anak ternodai oleh silang sengkarutnya lingkungan. Karena itu bila ada remaja yang gagap terhadap lingkungan berikut adalah terapi yang bisa dilakukan.
Pertama : Kenali dirimu
Kebanyakan kita suka mengetahui rahasia orang, dengan rahasia itu bisa dipakai untuk ngerumpi, gosip bahkan memfitnah orang lain. Sebaliknya terlalu sedikit di antara kita yang mengerti siapa diri kita sebenarnya. Mengerti potensi dan kelemahan pribadi merupakan cara cerdas untuk mengambil langkah memasuki kehidupan yang sebenarnya. Proses pengenalan diri ini seringkali perlu dibantu orang lain, karena itu pelatihan-pelatihan psikologi bisa dipakai untuk urusan ini. Di Amerika banyak lembaga-lembaga konseling nirlaba yang membantu menyelesaikan anak-anak yang bermasalah seperti ini. Sedangkan di Indonesia biasanya dilakukan oleh universitas-universitas yang memiliki fakultas psikologi. Di Jogjakarta ada lembaga seperti ini yang bernama Rifka Annisa. Secara periodik lembaga tersebut sering melakukan pelatihan-pelatihan psikologi bagi para remaja di samping menerima bimbingan konseling remaja yang bermasalah.
Secara sederhana pengenalan diri sendiri dapat memakai analisa SWOT (strenght, Wedness, Oportunity, tread) ; yaitu analisis untuk mengetahui kekuatan pribadi, kelemahan, peluang atau kesempatan dan tantangan. Dengan memenej empat hal tersebut seseorang akan dapat memaksimalkan diri dalam mengaktualisasikan dirinya. Kita harus yakin bahwa tidak ada manusia yang sempurna tetapi kitapun mesti yakin bahwa setiap manusia pasti memiliki kelebihan. Kata pepatah arab, la tahtaqir man dunaka falikulli syaiin maziyyah (janganlah anda menyepelekan orang lain karena setiap orang memiliki kelebihan).
Kedua : Melakukan pekerjaan positif yang digemari
Setelah mengetahui potensi diri secara benar. Sudah tahu who am I ?, siapa aku sebenarnya ?. Maka langkah berikutnya adalah mengisi waktu untuk beraktifitas sesuai dengan potensi riil yang pada diri kita.
Era modern saat ini yang dibutuhkan adalah seorang ahli dalam bidang tertentu. Tipe manusia yang tahu segalanya tidak lagi dibutuhkan. dan ini berarti pengembangan pribadi agar maksimal dalam bidang tertentu menjadi niscaya dilakukan. Sikap sungkan, gengsi, malu dan semacamnya merupakan penyakit yang perlu dibuang jauh. Bila seseorang telah disibukkan dengan aktifitas yang digemari dan postif tentu dengan sendirinya akan terhindar dari perbuatan yang sia-sia.
Kekosongan itu merusak, bengong tanpa kontrol merupakan ketololan hidup yang perlu dihindari. Firman Allah, bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan tetapi syaratnya adalah, bila anda telah melakukan satu pekerjaan isilah kekosongan itu dengan pekerjaan lain. Kata Hasan Al Bana, “ wahai pemuda sesungguhnya kewajiban kalian lebih banyak daripada waktu yang anda miliki, karena itu jangan buang waktu anda sia-sia”.
Dalam teori ekonomi terdapat teori Time Value of Money (nilai waktu uang). Artinya uang itu akan memiliki harga karena perubahan waktu dan nilai itulah dalam ekonomi konvensional disebut bunga. Dalam konteks Islam hal tersebut dinamakan riba dan itu dilarang. Yang ada adalah Economic Value of Time (nilai ekonomis dari waktu). Artinya waktu itu akan berharga tergantung orang yang menggunakannya. Bagi bapak ibu guru satu jam senilai Rp. 5000, bagi seorang mubaligh profesional seharga Rp. 250.000, bagi seorang konsultan pasar modal bisa sebesar Rp. 10 juta, sedangkan bagi pengangguran waktu tak bernilai apapun.
Ketiga : Hindari lingkungan yang tidak sehat
Al kisah, ada seorang preman yang sudah membunuh 99 orang. Tetapi tiba-tiba ia ingin taubat. Karena itu jagoan tersebut mendatangi seorang pendeta, katanya “ wahai bapak pendeta saya sudah membunuh 99 orang dan hari ini saya ingin taubat, apakah Tuhan masih menerima taubat saya ?”. “Aduh, sayang sekali anda sudah berbuat sejahat itu baru ingin taubat. Enak bener, tentu saja Tuhan tidak akan menerima taubatmu”. Jawab sang pendeta. Mendengar jawaban tersebut preman itu membunuh sang pendeta, maka lengkaplah 100 orang yang telah dibantainya tanpa dosa. Kemudian, premen itu mendatangi seorang ulama katanya, “ bapak kyai, saya sudah membunuh 100 orang bahkan yang terakhir seorang pendeta dan sekarang saya ingin taubat, apakah Tuhan menerima taubat saya ?. Dengan tersenyum sang ulama menganggukkan kepala lalu dia berpesan, “ nak, Allah Maha pengampun. ia akan menerima setiap hambanya yang telah tersesat dan ingin kembali kepadan Nya, termasuk anda. Nah karena itu bergembiralah anda telah sadar. Tetapi setalah ini tinggalkan kampung halamanmu sebab kampungmu itu kampung brengsek dan pergilah ke suatu tempat di mana anda akan bisa lebih baik”. Preman itupun meninggalkan rumah sang ulama dengan gembira, dan tatkala menuju kampung baru yang ditunjukkan pak Kyai ia meninggal di tengah perjalanan. Lalu dua malaikat berdebat tentang status mantan preman tersebut. Kata malaikat rahmat, “ Ini urusan saya, karena dia orang baik. Memang benar ia telah membunuh 100 orang tetapi dia sudah taubat”. “Tidak”, kata malaikat yang mengurusi orang-orang jahat, “memang benar ia telah bertaubat tetapi ia belum berbuat sesuatu kebaikan untuk taubatnya itu, karena itu dia adalah orang jahat”. Mengetahui perselisihan itu datanglah malaikat ketiga sebagai penengah, “ baik, sekarang untuk mengetahui apakah dia orang baik atau orang jahat silahkan diukur, manakah yang lebih jauh jarak yang telah ditempuh orang ini, antara tempat ini dengan kampung yang dituju dibanding kampung yang ditinggalkan”. Setelah diukur ternyata ia telah meninggalkan kampung halamannya separo lebih. Jadi ia orang baik.
Cerita di atas menunjukkan bahwa lingkungan yang rusak akan membuat seseorang baik menjadi rusak pula. Karena itu memilih kawan bergaul merupakan pekerjaan yang tidak gampang. Betapa banyak contoh remaja baik dapat menjadi tidak karuan gara-gara salah memilih teman.
Peer Group adalah term untuk menyebut kawan-kawan tempat kita secara intens bergaul. Biasanya remaja akan lebih terbuka kepada kelompoknya itu. Urusan pribadi secara terus terang diceritakan kepada kelompoknya bukan kepada orang tua apalagi guru BP. Karena itu banyak orang tua yang salah duga. Dikiranya anakanya adalah penurut dan alim karena ketika di rumah memang nampak seperti itu, tetapi tatkala bersama peer groupnya ia baru menjadi dirinya sendiri tanpa ditutupi. Bergembiralah, bila anda mendapati peer group yang baik. memberi semangat belajar dan beribadah, dan hati-hati bila sebaliknya.
Reflkesi
Ketika remaja masih seorang bayi dan anak kecil setiap orang berusaha berbicara dengan bahasa anak-anak. Menyapa dengan raut wajah lucu agar anak tersenyum atau berbuat sesuatu yang seakan-akan ia sendiri anak kecil. Perbuatan orang-orang dewasa tersebut dengan satu tujuan, anak bisa menerima pesan yang disampaikannya.
Kemudian ketika sang anak telah menginjak remaja orang-orang dewasa itu tidak mau lagi berbicara dengn mereka dengan bahasa remaja. Mereka mengaggap remaja itu adalah seperti dirinya yang telah dewasa, karena itu berbicara, menasehati, memarahi dan memerintah sebagaimana layaknya ia berkomunikasi dengan orang dawasa. Yang terjadi adalah konsleting. Remaja merasa tertekan dengan nasehat-nasehat yang diberikan orang tua atau bapak ibu guru. Padahal remaja memiliki bahasa sendiri, cara sendiri, obsesi sendiri, kemauan sendiri dan cirikhas sendiri yang perlu dipahami oleh orang-orang dewasa. Jadi ada disparitas antara remaja dengan orang dewasa sehingga tatakala remaja punya banyak masalah pelariannya kepada peer groupnya dan karena miopis mereka menjadi salah langkah dalam menyelesaikan masalah. Jadilah remaja itu bermasalah yang oleh orang-orang dawasa dikategorikan remaja nakal.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar