Assalamu'alaikum Wr.Wb.. Selamat Datang di Website Kantor Urusan Agama Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen Melayani Dengan Hati - Bersih Dari Pungli - Setiap Pembayaran Kami Beri Kwitansi Welcome to The Office of Religious Affairs of Tanon District, Sragen Regency, Indonesia Serving Heartily - Free from Illegal Fees - A Receipt for Each Payment

Kamis, 21 November 2013

GIVE THE BEST TAKE THE BEST


GIVE THE BEST TAKE THE BEST

            Kita sering melihat kelompok masyarakat berunjuk rasa. Bermacam ragam mereka tuntut, ada yang menuntut dijadikan PNS, kelompok lain minta kenaikan upah, yang lain lagi minta subsidi kredit, ada juga yang minta penambahan anggaran untuk desa, kali lain ada yang minta pemotongan pajak, pelayanan kesehatan gratis, pendidikan cuma-cuma, minta pekerjaan dan lain-lain. Mereka menuntut apa yang menurutnya sebagai hak. Di  alam demokrasi hal tersebut katanya biasa padahal sebenarnya itu luar biasa.
            Ajaran Islam ternyata tidak  mengajarkan umatnya menuntut hak tetapi malah sebaliknya membebani kewajiban. Sabda nabi yang diriwayatkan Imam Bukhori dari Muaz bin Jabal menyebutkan:

يَا مُعَاذُ ، هَلْ تَدْرِى حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ » . قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ . قَالَ « فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلاَ يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ، وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لاَ يُعَذِّبَ مَنْ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

 Artinya: Wahai Muaz,  apakah kamu tahu hak Allah atas hambanya dan apa hak hamba atas Allah ? tanya nabi. Allah dan rasulnya lebih mengerti, jawab Mu’az. Bersabda nabi, hak Allah atas hamba Nya adalah supaya Dia disembah dan tidak disekutukan dengan apapun, dan hak hamba atas Allah adalah Dia tidak menyiksa orang yang tidak menyekutukan Nya  dengan sesuatu apapun”.
            Take and give, menerima setelah memberi. Inilah sejatinya keseimbangan kehidupan. Buruh bekerja menunaikan kewajibannya maka ia akan memperoleh upah sebagai haknya, guru mengajar murid-murid maka ia akan mendapat gaji sebagai haknya, murid belajar dengan sungguh-sungguh ia akan mendapat nilai istimewa sebagai haknya, perangkat desa melayani masyarakat dengan mudah, cepat dan biaya wajar maka ia akan menerima tanah bengkok sebagai haknya, pejabat bekerja keras untuk memakmurkan rakyat maka ia akan mendapat kehormatan, sanjungan dan imbalan sebagai haknya. Allah tidak menyiksa seorang hamba adalah hak hamba setelah kewajibannya ditunaikan.
Hak selalu melekat dengan kewajiban. Karena itu dalam fikih Islam dikenal istilah taklif yaitu pembebanan kewajiban. Manusia yang terkena beban dinamakan mukallaf. Manusia yang sudah mukallaf  akan berdosa bila tidak menjalankan kewajibannya. Ada tiga golongan manusia yang tidak mukallaf alias tidak terkena kewajiban apapun, mereka adalah orang yang sedang tidur, anak-anak sebelum dewasa dan orang gila, begitulah sabda nabi riwayat Abu Dawud. Kalau  kita lebih suka menuntut hak tetapi mengabaikan kewajiban maka tak ubahnya seperti tiga jenis manusia tersebut.
            Para khatib Jum’at sering berpesan, “marilah kita melaksanakan semua perintah Allah dan menjauhi larangan Nya”. Ajakan tersebut biasa diartikan sebagai ketaqwaan. Dengan kata lain orang yang bertaqwa adalah orang yang gemar menunaikan kewajiban. Orang seperti ini tanpa menuntutpun  haknya akan ia terima.
Hak dan kewajiban  merupakan sebab-akibat. Seorang peternak kambing menunaikan kewajibannya sebagai peternak, yaitu memberi makan rumput hijau dan menggembalakan   maka hak dia adalah memperoleh keuntungan dari hasil ternaknya, ayah mencari nafkah yang halal, mendidik keluarga dengan baik maka hak dia adalah memperoleh penghormatan dari istri dan anak-anaknya, pak tani berkerja keras menanam padi maka ia akan menerima  haknya yaitu panen yang melimpah, tukang parkir menertibkan kendaraan dengan sopan maka ia akan menerima uang receh sebagai haknya.  Bila kewajiban dilaksanakan dengan baik Allah akan melipatgandakan hak hamba melebihi kewajiban yang telah ia tunaikan.
`tB مَنْ جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَنْ جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَى إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ  [الأنعام/160]
Barangsiapa membawa amal yang baik, Maka baginya balasan sepuluh kali lipat amalnya; dan Barangsiapa yang membawa perbuatan jahat Maka Dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan) ( Al An’am: 160)
Keuntungan orang yang suka menunaikan kewajiban bukan hanya akan diterima di dunia tetapi juga surga di akherat. Bahkan kewajiban sekecil apapun yang telah dikerjakan seorang hamba  akan memperoleh balasan sebagai haknya.
            فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ [الزلزلة/7
 Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat balasannya.
            Menyibukkan diri memenuhi kewajiban jauh lebih penting daripada menuntut hak, sebab dengan menjalankan kewajiban berarti telah memberikan hak orang lain. Kewajiban manusia bermacam-macam tergantung pekerjaan dan kedudukannya. Bila setiap diri menunaikan kewajibannya tentu kehidupan sosial  akan tertib dan indah.  Dan yang perlu kita pahami adalah bahwa jika kita tunaikan kewajiban sebaik-baiknya maka hak kitapun akan kita terima dengan istimewa (give the best take the best). Tetapi sayang, euforia reformasi mendorong sebagian masyarakat lebih suka menutut hak daripada menunaikan kewajiban.
            Praktisi bisnis menerapkan pola timbal balik hak-kewajiban ini dengan cara melayani konsumen sebaik mungkin. Bahkan ia sangat suka dikritik dalam rangka memperbaiki pelayanannya. Ada sebuah warung yang pada dindingnya ditulis, “Anda kecewa beritahu kami, anda puas beritahu teman”. Promosi ini dalam rangka menunaikan kewajibannya sebagai pedagang, yaitu menempatkan pembeli pada posisi yang sangat  mulia. Islam mewajibkan kepada setiap pedagang untuk jujur, tidak mengurangi takaran dan tidak menyembunyikan barang yang cacat. Bila kewajiban tersebut dilakukan maka ia akan memperoleh haknya yaitu banyaknya pembeli yang belanja di warugnya, di samping tentu saja barokah atas rezekinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar