Assalamu'alaikum Wr.Wb.. Selamat Datang di Website Kantor Urusan Agama Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen Melayani Dengan Hati - Bersih Dari Pungli - Setiap Pembayaran Kami Beri Kwitansi Welcome to The Office of Religious Affairs of Tanon District, Sragen Regency, Indonesia Serving Heartily - Free from Illegal Fees - A Receipt for Each Payment

Kamis, 21 November 2013

MEMPERBAHARUI IMAN


MEMPERBAHARUI IMAN

            Kesibukan sehari-hari sering melenakan hati kita dari radar Allah. Akibatnya semangat beribadah berkurang dan dengan Allahpun semakin jauh. Bila itu dibiarkan maka tanpa kita sadari perjalanan hidup kita akan semakin keluar dari tuntunan Allah. Ibarat pengembara, kita tidak terbimbing dengan peta Allah sehingga tersesat. Orang seperti ini meninggalkan kewajiban agama menjadi ringan dan berbuat maksiatpun tanpa beban. Ketika iman ada di dada kehilangan sholat jamaah satu kali saja sangat menyesal tetapi  di saat hati jauh dari Allah sholat menjadi malas, sedekah enggan dan maksiat menjadi kebiasaan. Untuk itu rasulullah mengajarkan kepada umatnya agar selalu memperbaharui iman dari waktu ke waktu. 
مسند أحمد - (ج 18 / ص 475)
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « جَدِّدُوا إِيْمَانَكُمْ
Artinya: Rasulullah bersabda, “Perbaharuillah imanmu” (Musnad Ahmad juz 18 hlm. 475)
            Allah swt. Berfirman dalam surat an Nisa:136

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya
.
            Ayat tersebut menyuruh orang beriman supaya beriman. Najih Ibrahim memaknai kalimat ini dengan menyebut bahwa iman itu bisa tambah dan kurang bahkan lenyap dari orang yang beriman, agar tetap terpelihara maka diperlukan pembaharuan iman.

            Ada beberapa cara agar iman kita selalu terbaharui.
  1. Membaca siroh orang-orang salafusoleh
Membaca ulang sejarah hidup perjalanan orang-orang soleh akan dapat mengembalikan hati kita kepada iman. Apapun profesi dan kedudukan kita telah ada suri tauladan orang-orang terdahulu yang sukses dalam iman sesuai dengan status sosial mereka. Bila anda seorang pejabat bacalah kisah Umar bin Khatab dan Umar bin Abdul Azis. Bila anda orang kaya bacalah kisah  Ustman bin Afwan dan Abdurahman bin Auf. Bila anda seorang tentara atau polisi bacalah perjalanan perjuangan Khalid bin Walid, Mus’ab bin Umair atau Tariq bin Ziad. Bila anda orang fakir becalah kisah keteguhan  Bilal,   Salman al Farisi atau kebodohan Sa’labah, bila anda orang berilmu bacalah riwayat hidup Imam Bukhari, imam Syafii dan para ulama lain. Dan bila anda seorang wanita bacalah kehebatan Ummu Sulaim, putri-putri nabi dan ummul Mukminin (istri-istri nabi). Sungguh membaca kisah ahli ibadah akan memantik kembali semangat kita dalam menjalankan sholat, puasa, menuntut ilmu dan zikir.

2. Kholwat
      Berkholwat adalah menyendiri untuk muhasabah. Dengan menyendiri memutus hubungan sementara dengan manusia akan dapat mengoreksi perjalanan hidup kita. Pada bulan ramadan ini media berkholwat yang paling baik adalah i’tikaf di sepuluh hari terakhir. Syekh  Sholih Ustaimin mendefinisikan i’tikaf adalah memutus hubungan dengan manusia  lain untuk memfokuskan diri sepenuhnya untuk melakukan ibadah di dalam  masjid demi mencari keutamaan dan pahalanya  dan demi mendapatlan lailatul qodar. Sebuah hadis nabi tentang hal ini adalah:
كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Artinya: rasulullah melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan ramadhan sampai wafat. Sesudah itu beri’tikaf pula istri-istri beliau sepeninggal beliau.
            Ketika berkholwat inilah seseorang bisa mengucurkan air mata penyesalan dan tobat, menangis karena takut, malu, cinta dan khusuk kepada Alah yang Mahasuci. Saking pentingnya i’tikaf bagi seorang mukmin  imam Abu Hanifah membolehkan wanita untuk ber’itikaf di dalam kamar dalam rumahnya yang dikhususkan untuk sholat. Tentang keistimewaan  berkholwat ini rasulullah menyebutkan bahwa salah satu dari tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan Allah di hari kiamat adalah laki-laki yang mengingat Allah dalam kesendirian dan menangis.

رجل ذكر الله خاليا ففاضت عيناه


3. Melakukan aktifitas pembangkit tawadhu
            Tawadhu adalah rendah hati kebalikannya adalah ujub (berbangga diri).  Karena keberhasilan yang kita raih sering memunculkan rasa ujub di hati. Ini adalah penyakit yang berhaya sebab akan menghilangkan keikhlasan. Untuk itu suatu saat kita perlu melakukan aktifitas yang dapat menghilangkan ujub dan membangkitkan tawadhu. Misalnya membersihkan MCK masjid dan sekolah, menyapu jalan atau membantu menyeberangkan jalan orang buta. Umar bin khatab pernah memanggul air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, ketika ditanya ia menjawab “ aku tengah diliputi sikap ujub dan karennaya aku ingin  mendidik diriku”.

4. Ziarah kubur
            Ziarah kubur akan mengingatkan kita akan kematian, cara ini sangat efektif untuk melecut sesorang agar rajin beribadah. Sabda nabi:

زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الآخِرَةَ
Artinya: berziarah kuburlah kalian, sesungguhnya ziarah kubur itu akan mengingatkan kalian akan akherat.
            Berdialog imajiner dengan penghuni kubur akan menghantarkan kita kepada perenungan yang bermakna. Yang ada di depan kita saat itu ternyata ada manusia-manusia kuat berkuasa, zalim, lemah, miskin, tua,  muda, soleh dan durjana. Mereka semua mengingatkan jiwa kita bahwa seperti mereka pula masa depan kehidupan ini.

5. Mengunjungi orang-orang sholeh
            Kita dapat mendengar nasehat mereka, cerita tentang perjuangannya dan kawan-kawannya. Kita juga dapat meniru bagaimana kezuhudan mereka, kecintaan mereka kepada akherat, pengorbanannya untuk Islam dan jihadnya di jalan Allah.
            Mengunjungi orang sholeh ini pernah dilakukan nabi Musa, bahkan ia mencarinya berhari-hari sampai akhirnya bertemu dengan  Khizir. Di saat itulah nabi musa mengerti bahwa  ada hamba Allah yang lebih hebat dari dirinya.

6. Mengingat ayyamullah (hari-hari Allah)
            Tentang hal ini Allah berfirman:

             
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah “sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi Setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.
            Yang dimaksud dengan hari-hari Allah ialah peristiwa yang telah terjadi pada kaum-kaum dahulu maupun sekarang yang dapat dipakai pelajaran. Misalnya hari tatkala Fir’aun ditenggelamkan, hari ketika Allah memenangkan tentara Islam di Badr, hari ketika Fathul Makah, hari ketika kaum Yahudi diusir dari Madinah atau bahkan hari ketika proklamasi kemerdekaan RI dikumandangkan.
            Dengan melakukan enam cara tersebut semoga iman kita selalu terpelihara sehingga kehidupan kita akan semakin baik.  Wallahu’ alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar