MEMPERBAHARUI IMAN
Kesibukan
sehari-hari sering melenakan hati kita dari radar Allah. Akibatnya semangat
beribadah berkurang dan dengan Allahpun semakin jauh. Bila itu dibiarkan maka
tanpa kita sadari perjalanan hidup kita akan semakin keluar dari tuntunan
Allah. Ibarat pengembara, kita tidak terbimbing dengan peta Allah sehingga
tersesat. Orang seperti ini meninggalkan kewajiban agama menjadi ringan dan
berbuat maksiatpun tanpa beban. Ketika iman ada di dada kehilangan sholat
jamaah satu kali saja sangat menyesal tetapi
di saat hati jauh dari Allah sholat menjadi malas, sedekah enggan dan
maksiat menjadi kebiasaan. Untuk itu rasulullah mengajarkan kepada umatnya agar
selalu memperbaharui iman dari waktu ke waktu.
مسند أحمد - (ج 18 / ص 475)
وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « جَدِّدُوا إِيْمَانَكُمْ
Artinya: Rasulullah bersabda,
“Perbaharuillah imanmu” (Musnad Ahmad juz 18 hlm. 475)
Allah
swt. Berfirman dalam surat
an Nisa:136
Artinya:
Wahai orang-orang yang beriman, berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan
kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah
turunkan sebelumnya
.
Ayat tersebut menyuruh orang beriman
supaya beriman. Najih Ibrahim memaknai kalimat ini dengan menyebut bahwa iman
itu bisa tambah dan kurang bahkan lenyap dari orang yang beriman, agar tetap
terpelihara maka diperlukan pembaharuan iman.
- Membaca siroh orang-orang salafusoleh
Membaca ulang
sejarah hidup perjalanan orang-orang soleh akan dapat mengembalikan hati kita
kepada iman. Apapun profesi dan kedudukan kita telah ada suri tauladan
orang-orang terdahulu yang sukses dalam iman sesuai dengan status sosial
mereka. Bila anda seorang pejabat bacalah kisah Umar bin Khatab dan Umar bin
Abdul Azis. Bila anda orang kaya bacalah kisah
Ustman bin Afwan dan Abdurahman bin Auf. Bila anda seorang tentara atau
polisi bacalah perjalanan perjuangan Khalid bin Walid, Mus’ab bin Umair atau
Tariq bin Ziad. Bila anda orang fakir becalah kisah keteguhan Bilal,
Salman al Farisi atau kebodohan Sa’labah, bila anda orang berilmu
bacalah riwayat hidup Imam Bukhari, imam Syafii dan para ulama lain. Dan bila
anda seorang wanita bacalah kehebatan Ummu Sulaim, putri-putri nabi dan ummul
Mukminin (istri-istri nabi). Sungguh membaca kisah ahli ibadah akan memantik
kembali semangat kita dalam menjalankan sholat, puasa, menuntut ilmu dan zikir.
2. Kholwat
Berkholwat adalah
menyendiri untuk muhasabah. Dengan menyendiri memutus hubungan sementara dengan
manusia akan dapat mengoreksi perjalanan hidup kita. Pada bulan ramadan ini
media berkholwat yang paling baik adalah i’tikaf di sepuluh hari terakhir.
Syekh Sholih Ustaimin mendefinisikan
i’tikaf adalah memutus hubungan dengan manusia
lain untuk memfokuskan diri sepenuhnya untuk melakukan ibadah di
dalam masjid demi mencari keutamaan dan
pahalanya dan demi mendapatlan lailatul
qodar. Sebuah hadis nabi tentang hal ini adalah:
كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ
اللَّهُ ، ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ
Artinya: rasulullah
melakukan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan ramadhan sampai wafat.
Sesudah itu beri’tikaf pula istri-istri beliau sepeninggal beliau.
Ketika berkholwat inilah seseorang
bisa mengucurkan air mata penyesalan dan tobat, menangis karena takut, malu,
cinta dan khusuk kepada Alah yang Mahasuci. Saking pentingnya i’tikaf bagi
seorang mukmin imam Abu Hanifah
membolehkan wanita untuk ber’itikaf di dalam kamar dalam rumahnya yang
dikhususkan untuk sholat. Tentang keistimewaan
berkholwat ini rasulullah menyebutkan bahwa salah satu dari tujuh
golongan yang akan mendapat perlindungan Allah di hari kiamat adalah laki-laki
yang mengingat Allah dalam kesendirian dan menangis.
رجل ذكر الله خاليا ففاضت عيناه
3. Melakukan
aktifitas pembangkit tawadhu
Tawadhu adalah rendah hati
kebalikannya adalah ujub (berbangga diri).
Karena keberhasilan yang kita raih sering memunculkan rasa ujub di hati.
Ini adalah penyakit yang berhaya sebab akan menghilangkan keikhlasan. Untuk itu
suatu saat kita perlu melakukan aktifitas yang dapat menghilangkan ujub dan
membangkitkan tawadhu. Misalnya membersihkan MCK masjid dan sekolah, menyapu
jalan atau membantu menyeberangkan jalan orang buta. Umar bin khatab pernah
memanggul air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, ketika ditanya ia menjawab “
aku tengah diliputi sikap ujub dan karennaya aku ingin mendidik diriku”.
4. Ziarah kubur
Ziarah
kubur akan mengingatkan kita akan kematian, cara ini sangat efektif untuk
melecut sesorang agar rajin beribadah. Sabda nabi:
زُورُوا الْقُبُورَ فَإِنَّهَا تُذَكِّرُكُمُ الآخِرَةَ
Artinya: berziarah kuburlah
kalian, sesungguhnya ziarah kubur itu akan mengingatkan kalian akan akherat.
Berdialog
imajiner dengan penghuni kubur akan menghantarkan kita kepada perenungan yang
bermakna. Yang ada di depan kita saat itu ternyata ada manusia-manusia kuat
berkuasa, zalim, lemah, miskin, tua,
muda, soleh dan durjana. Mereka semua mengingatkan jiwa kita bahwa
seperti mereka pula masa depan kehidupan ini.
5. Mengunjungi orang-orang sholeh
Kita
dapat mendengar nasehat mereka, cerita tentang perjuangannya dan
kawan-kawannya. Kita juga dapat meniru bagaimana kezuhudan mereka, kecintaan
mereka kepada akherat, pengorbanannya untuk Islam dan jihadnya di jalan Allah.
Mengunjungi
orang sholeh ini pernah dilakukan nabi Musa, bahkan ia mencarinya berhari-hari
sampai akhirnya bertemu dengan Khizir.
Di saat itulah nabi musa mengerti bahwa
ada hamba Allah yang lebih hebat dari dirinya.
6. Mengingat ayyamullah
(hari-hari Allah)
Tentang
hal ini Allah berfirman:
Dan
sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami, (dan Kami
perintahkan kepadanya): "Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada
cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah
“sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi
Setiap orang penyabar dan banyak bersyukur.
Yang dimaksud dengan hari-hari Allah
ialah peristiwa yang telah terjadi pada kaum-kaum dahulu maupun sekarang yang
dapat dipakai pelajaran. Misalnya hari tatkala Fir’aun ditenggelamkan, hari
ketika Allah memenangkan tentara Islam di Badr, hari ketika Fathul Makah, hari
ketika kaum Yahudi diusir dari Madinah atau bahkan hari ketika proklamasi
kemerdekaan RI dikumandangkan.
Dengan melakukan enam cara tersebut
semoga iman kita selalu terpelihara sehingga kehidupan kita akan semakin
baik. Wallahu’ alam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar