Assalamu'alaikum Wr.Wb.. Selamat Datang di Website Kantor Urusan Agama Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen Melayani Dengan Hati - Bersih Dari Pungli - Setiap Pembayaran Kami Beri Kwitansi Welcome to The Office of Religious Affairs of Tanon District, Sragen Regency, Indonesia Serving Heartily - Free from Illegal Fees - A Receipt for Each Payment

Kamis, 21 November 2013

SODAQOH SEBAGAI TOLAK BALAK

SODAQOH SEBAGAI TOLAK  BALAK

            Ada seorang kawan yang punya pola pikir dan perilaku aneh. Keanehannya itu sering benar walaupun tidak logis. Misalnya suatu saat, ketika ia mendapati anaknya sakit kawan itu tidak segera membawanya ke dokter tetapi ia malah sibuk mencari orang-orang miskin  lalu diberinya  mereka sejumlah uang. Perilakunya itu tidak jarang menyebabkan ia harus bersitegang dengan istrinya. Menurut sang istri anak yang sedang  sakit itu tentu akan memerlukan banyak uang untuk berobat, karena itu tindakan membagi-bagikan uang kepada orang lain merupakan perbuatan konyol. Tetapi setelah berlangsung berkali-kali ketegangan itupun tidak lagi terjadi sebab biasanya selang bebarapa saat si anak segera  sembuh  walaupun tanpa  dibawa ke dokter.
            Kali lain, ketika ia selesai mengerjakan  sebuah proyek bendungan tiba-tiba mendung bergelantung  di mana-mana. Menurut perhitungannya bila turun hujan lebat maka bendungan yang baru selesai dikerjakan  itu akan jebol dan ini berarti sebuah malapetaka baginya. Dalam kondisi tegang tersebut kawan tadi segera mencari anak-anak miskin kemudian ia bagikan kepada mereka uang duapuluh ribuan, sambil  komat-kamit memanjatkan do’a ia menunggu apa yang akan terjadi. Dan ternyata Allah mengabulkan permohonannya. Hujan tak jadi turun dan bandungan yang  baru dibangun itupun selamat.
            Ketika ditanya tentang perilaku anehnya  itu, kawan tadi menjawab, “ Aku  telah berjual beli dengan Allah, aku beli apa yang dimiliki Allah dan Ia memberikan barangnya keapadaku. Allah yang memiliki kesehatan tapi pada saat yang sama ia perintahkan hambanya untuk menyantuni orang-orang miskin, maka aku beli yang ia tawarkan itu dan ia memberi anakku kesehatan. Lalu Allahlah yang menurunkan hujan kapan dan dimanapun Ia mau, lalu aku beli kemauan Allah tersebut dengan cara aku membagikan sebagian uangku kepada anak-anak miskin  tersebut lalu Ia pun menahan hujan itu sehingga akupun tidak jadi bangkrut”.
            Kalau dipakai  hukum sebab akibat perilaku kawan tadi memang tidak rasional walapun ia setengah mati merasionalisasikan  perbuatannya. Tetapi hidup ini memang ternyata tidak selamanya mesti rasional. Ada saat dimana keyakinan itu akan mengalahkan rasionalitas. Kawan tadi memiliki keyakinan yang kelewat kuat akan keterlibatan Allah dalam proses hidupnya. Yang ia tahu perilaku dermawan itu akan mendatangkan rahmat dari Allah maka ia lakukan sifat tersebut.
            Banyak orang menyangkal logika aneh itu tetapi ia telah  berkali-kali membuktikan dan ternyata benar. Ada landasan normatif yang ia pegangi yaitu sebuah hadist Nabi yang maknanya, “ Kasihilah apa saja yang ada di bumi maka kalian akan dikasihi zat yang ada di langit (Allah)”.  Dalam tradisi Jawa juga ada pepatah, “ Pagar mangkok lebih kuat daripada pagar tembok”. Bila anda  takut hartamu dijarah orang jangan hanya membangun pagar tembok yang berduri. Secara teknis memang pagar yang tinggi sulit ditembus pencuri tetapi akal pencuri seringkali lebih hebat dari pemilik rumah sehingga tetap saja pencurian tetap terjadi. Lain halnya bila  anda suka bersedekah maka bukan  hanya tetangga  yang akan turut menjaga rumah anda tetapi  Allah juga akan  turut menjaganya.
              Ada lagi cerita  dari Adi Warman Karim, seorang pakar ekonomi Islam di Jakarta. Ketika  bang Adi - begitu ia biasa disapa -  masih kuliah di Boston,  Amerika suatu saat uang sakunya tinggal beberapa dolar. Uang yang ada itu hanya cukup untuk bertahan hidup tidak lebih dari dua hari. Dalam keadaan kepepet seperti itu, ia mengambil  langkah yang benar-benar gila, yaitu ia kirimkan uang tersebut ke Jakarta untuk disedekahkan kepada ibunya. Ia  yakin Allah akan memberinya ganti karena ia telah berbuat baik kepada sang ibu. Dan ternyata benar, tak lama kemudian beasiswa yang selama ini ia tunggu-tunggu turun dan dapat dicairkan. Bang Adi selamat dari  kesengsaran di negeri orang  karena telah bersedekah kepada orang  yang dikasihinya.

           Pada situasi di mana kebanyakan orang hanya mengandalkan keunggulan rasionalitas saat ini, nampaknya terobosan untuk menghadirkan sesuatu yang “aneh” perlu diujicobakan. Misalnya beberapa waktu lalu kita ditakutkan oleh wabah SARS yang mematikan, kita beli masker dan segala perlengkapan untuk menghindari penyakit itu. Tetapi adakah di antara kita yang mencoba berfikir “aneh” untuk selamat dari malapetaka  SARS selain yang logis-logis tersebut ?,  yaitu  mencegahnya dengan memperbanyak bersedekah ?.Anda mungkin tidak percaya dengan langkah ini, tetapi percaya atau  tidak anda boleh mencobanya. Wallahu ‘alam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar