Assalamu'alaikum Wr.Wb.. Selamat Datang di Website Kantor Urusan Agama Kecamatan Tanon Kabupaten Sragen Melayani Dengan Hati - Bersih Dari Pungli - Setiap Pembayaran Kami Beri Kwitansi Welcome to The Office of Religious Affairs of Tanon District, Sragen Regency, Indonesia Serving Heartily - Free from Illegal Fees - A Receipt for Each Payment

Rabu, 20 November 2013

FIRASAT SEORANG MUKMIN



FIRASAT SEORANG MUKMIN
Oleh: Muhammad Nursalim

                Diriwayatkan oleh Anas bin Malik bahwa suatu hari ia bertamu kepada Ustman bin Affan. Tatkala masuk ke rumah beliau Ustman berkata; “Aku melihat salah satu diantara kamu bekas zina dimatanya”. Anas terperanjat dengan pernyataan menantu Rasulullah tersebut seraya bertanya ; “apakah setelah nabi wafat masih ada wahyu turun?”.  “ Tidak. Aku mengetahui dengan mata hatiku” jawab Ustman. Setelah itu Anas bin Malik  mengakui bahwa sebelum masuk ke rumah Ustman ia melihat wanita cantik.
 Ada juga riwayat tentang firasat Umar bin Khatab. Suatu ketika Umar sedang khutbah di masjid di kota Madinah tiba-tiba ia berteriak sambil mengacung-acungkan tangannya “wahai Sariah bin Hisn. Gunung-gunung”. Setelah selesai khutbah Ali bertanya :”Ada apa dengan teriakanmu kepada Sariah bin Hisn ?”.  “Aku melihat pasukan Islam yang dipimpin  Sariah terdesak maka aku perintahkan mereka naik ke gunung”. Setelah beberapa saat utusan Sariah datang menghadap Umar dan menceritakan bahwa mereka mendengar suara komando Umar  agar kami naik ke gunung dan atas izin Allah pasukan Islam diberi kemenangan.
                Kemampuan Ustman dan Umar  pada kisah di atas dinamakan firasat. Ilmu firasat ini bukan klenik akan tetapi betul-betul  ada dan diberikan Allah kepada orang-orang shalih. Hal ini sesuai dengan sebuah hadis nabi:
عَنْ عَائِشَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ « قَدْ كَانَ يَكُونُ فِى الأُمَمِ قَبْلَكُمْ مُحَدَّثُونَ فَإِنْ يَكُنْ فِى أُمَّتِى مِنْهُمْ أَحَدٌ فَإِنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ مِنْهُمْ »
Dari Aisyah ra. dari Nabi saw. Bersabda “ Ada di antara umat-umat sebelum kamu itu orang-orang yang memiliki ilham jika itu ada pada umatku maka Umar bin Khatab adalah salah satu di antaranya. (HR. Muslim)
                Ada juga sabda Nabi riwayat Tirmizi : “Hati-hatilah dengan firasat seorang mukmin sebab ia melihat dengan cahaya Allah”. Cahaya Allah ini dapat berupa ilham atau kecenderungan tertentu ketika dihadapkan berbagai pilihan. Hadis ini memang lemah tetapi  menurut DR. Zein An Najah tidak bertentangan dengan beberapa firman Allah berikut :
إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ [الحجر/75]
Sesungguhnya  pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda  bagi orang mutawassimin.
                Imam Mujahid memberi makna mutawasssimin pada ayat di atas adalah orang-orang yang memiliki firasat kuat. Yaitu orang yang mengetahui sesuatu dengan mempelajari tanda-tandanya. Tentu saja selain tanda-tanda fisik dan hukum sebab akibat juga karena bimbingan dari Allah sebagimana firmannya:
وَلَوْ نَشَاءُ لَأَرَيْنَاكَهُمْ فَلَعَرَفْتَهُمْ بِسِيمَاهُمْ
Dan kalau Kami menghendaki niscaya kami tunjukkan  mereka kepadamu sehingga kamu benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya (Muhammad:30).
                Ayat ini terkait sikap orang-orang munafiq dihadapan Rasulullah. Mereka menampakkan kebaikan dihadapan Nabi tetapi sebenarnya hatinya penuh dengan kebencian dan berusaha mencelakakan rasulullah dengan berbagai cara. Tetapi dengan melihat tanda-tanda mereka baik berupa ucapan maupun perilakunya  Nabi selamat dari    makar  mereka.
                Firasat berbeda dengan ilmu ghaib. Kalau masalah yang ghaib hanya Allah yang mengetahui  sebagaimana firmannya:
قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ [النمل/65]
Katakanlah tidak ada seorangpun di langit maupun di bumi  mengatahui yang ghaib kecuali Allah.
                Kata Ibnu Al Arabi bahwa ilmu ghaib adalah semua yang tertutup dari panca indera dari hal yang tidak dapat dicapai kecuali dengan kabar. Dan kabar perkara ghaib itu hanya benar bila datangnya dari Allah dan rasulnya sebab terkadang pula Allah memberitahu hal yang ghaib itu kepada sebagian utusan Nya:
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (26) إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ  [الجن/26، 27]
Dialah Tuhan yang mengetahui yang ghaib dan dia tidak memperlihatkan hal yang ghaib itu kepada siapapun. Kecuali kepada orang yang dikehendaki dari para rasul.
                Firasat adalah feeling atau kepekaan kita terhadap sesuatu baik berupa peristiwa maupun karakter seseorang. Bahkan untuk mengetahui kapribadian seseorang para  psikolog telah mengembangkan perangkat untuk “menduga-duga”. Misalnya dengan sidik jari tanda tangan bahkan lewat tulisan tangan (grafologi).  
 Kepekaan seorang mukmin itu juga dibimbing oleh Allah.  Karena kesungguhannya dalam mentaati perintah Allah sehingga Ia memberinya ilmu. Sebagaimana firmanya:
 وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ  [البقرة/282]
                Dan bertaqwalah kepada Allah niscaya Ia akan mengajarimu ilmu sesungguhnya Allah maha mengatahui atas segala sesuatu.
                Firasat yang terbimbing  Allah sangat perlu bagi seorang hakim. Sebab ia sering dihadapkan dengan berbagai fakta persidangan yang saling berlawanan. Antara satu saksi dengan lainnya saling berbantahan. Dan firasat demikian hanya dimiliki oleh orang-orang yang beriman. 
                Akhirnya walaupun firasat itu dibenarkan  dalam ajaran Islam akan tetapi tidak boleh setiap orang mengaku-ngaku bahwa firasatnya dibimbing Allah.  Sebab firasat yang benar adalah yang dimiliki oleh orang yang beriman berilmu dan bertaqwa kepada Allah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar